Selasa, 03 Mei 2016

Psikologi Perkembangan : Pertumbuhan dan perkembangan Manusia

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Studi tentang perkembangan dan pertumbuhan manusia merupakan usaha yang terus berlangsung dan berkembang. Seiring dengan perkembangannya, studi tentang perkembangan dan pertumbuhan manusia telah menjadi sebuah disiplin ilmu dengan tujuan untuk memahami lebih dalam tentang apa dan bagaimana proses perkembangan dan pertumbuhan manusia.Sampai dengan saat ini kajian mengenai perkembangan dan pertumbuhan manusia telah banyak menunjukkan manfaat yang signifikan. Dan salah satu manfaat dari berkembangnya disiplin ilmu tentang perkembangan manusia ini adalah pendidikan. Dan jika kita berbicara pendidikan tentunya unsur yang mutlak ada ialah manusia itu sendiri. Nah, dalam hal ini kajian ataupun teori-teori mengenai perkembangan dan pertumbuhan manusia sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan.
Dengan demikian untuk dapat menjadi seorang Pendidik tidak cukup hanya mengandalkan penguasaan atas materi atau ilmu yang diajarkan. agar setiap pendidik baik orang tua maupun guru memahami benar hakikat pertumbuhan dan perkembangan anak agar dapat membimbing atau mengarahkan mereka kearah kedewasaan yang diharapkan.
B. Rumusan Masalah
1)      Apa yang dimaksud dengan Pertumbuhan dan Perkembangan ?
2)      Apa saja Fase-Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia ?
3)      Ap saja Aspek-aspek dalam pertumbuhan dan perkembangan
4)      Jelaskan faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia?
5)      Jelaskan Aliran-aliran dalam Pertumbuhan dan Perekmbangan Manusia dalam ilmu Pendidikan?
C. Tujuan Masalah
1)      Menjelaskan Definisi pertumbuhan dan Perkembangan pada manusia
2)      Menjelaskan Fase-Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
3)      Mengetahui Aspek-aspek dalam Pertumbuhan-dan Perkembangan
4)      Mengetahui faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
5)      Menjelaskan Aliran-aliran Pertumbuhan dan Perekmbangandalam ilmu Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan

1.      Pertumbuhan
Dalam proses perkembangan manusia ada dua istilah yang sering digunakan yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat Kuantitatif yang menyangkut aspek fisik jasmaniah. C.P Chaplin (2002) ,mengartikan pertumbuhan sebagai suatu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagin tubuh atau dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E sinolungan(1997), pertumbuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif,yaitu dapat dihitung atau diukur,seperti panjang atau berat badan tubuh. Sedangkan Ahmad Tontowi mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adanya Perbanyakan multiplication sel-sel. jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa.
Pertumbuhan dan perkembangan memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya. Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi, setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin.Pertumbuhan dan perkembangan membawa manusia kepada kedewasaan. Setelah dewasa, manusia dapat menghasilkan keturunan sehingga populasi manusia akan terjaga kelestariannya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa istilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif,yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan,pertumbuhan kaki,kepala ,jantung,paru-paru dan sebaginya.dengan demikian tidak tepat jika kita misalnya mengatakan pertumbuhan ingatan,pertumbuhan berfikir, pertumbuhan kecerdasan, dan sebaginya, sebab kesemuanya merupakan perubahan fungsi-fungsi mikian juga tidak tepat jika dikatakan pertumbuhan kemampuan yang berjalan, pertumbuhan menulis, pertumbuhan penginderaan, dan sebagianya. sebab kesemuanya merupakan perkembangan fungsi-fungsi jasmaniah.
Pertumbuhan fisik bersifat meningkat,menetap,dan kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Ini berarti bahwa pertumbuhan fisik ada puncaknya.Sesudah suatu masa tertentu fisik mulai mengalami kemunduran dan berakhir pada keruntuhan dihari tua, dimana kekuatan-kekuatan dan kesehatannya berkurang,pancaindera menjadi lemah atau lumpuh sama sekali. Berbeda halnya dengan perkembangan aspek mental atau psikis yang relative berkelanjutan,sepanjang individu yang bersangkutan tetap memeliharanya.Dengan demikian,istiliah Pertumbuhan lebih cenderung merujuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada titik optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya.
Sedangkan istilah perkembangan lebih menunjuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat. Perkembangan rohani tidak terhambat walaupun keadaan jasmani sudah sampai pada puncak pertumbuhannya. Meskipun terdapat perbedaan penekanan dari kedua itilah terebut,tetapi dalam literature psikologi perkembangan istilah Pertumbuhan digunakan dalam penegrtian yang sama dengan perkembangan. Bahkan menurut Witherington (1986),”Pertumbuhan dalam pengertiannya yang luas meliputi perkembangan”.[1]
2.      Perkembangan
Perkembangan ( Development ) adalah suatu proses perubahan ke arah kedewasaan atau pematangan yang bersifat KUALITATIF ( ditekankan pada segi fungsional ) akibat adanya proses pertumbuhan materiil dan hasil belajar dan biasanya tidak dapat diukur. Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang secara relatif teratur, sehingga terjadinya pola perkembangan sistematik
Perkembangan secara khusus diartikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat Kualitatif dan Kuantitatif yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia. Seperti misalnya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan aspek–aspek pengetahuan, kemampuan, sifat sosial, moral,keyakinan agama,kecerdasan dan sebagainya,sehingga dengan perkembangan tersebut si anak akan semakin bertambah banyak pengetahuan dan kemampuan nya juga semakin baik sifat sosial,moral,keyakinan agam dan sebagainya.[2]
Perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan fungsi organ individu. Ada banyak pengertian perkembangan menurut beberapa ahli.
Menurut Paul Eggan dan Don Kauchak perkembangan adalah perubahan yang berurutan dan kekal dalam diri seseorang dan merupakan hasil daripada pembelajaran, pengalaman dan kematangan. Menurut Crow (1980) perkembangan merupakan perubahan secara kualitatif serta cenderung ke arah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, dan sosial. Aliah B Purwakania Hasan menuturkan bahwa perkembangan berarti segala perubahan kualitatif dan kuantitatif yang menyertai pertumbuhan dan proses kematangan manusia.
Di sisi lain Elizabeth B. Hurlock mengartikan istilah perkembangan sebagai serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Secara sederhana, Seifert dan hofnung mendenifisikan perkembangan sebagai “long-term changes in a person’s growth,feelings,patterns of thinking,social relationships, and motor skills”.
Sementara itu, Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai : (1) perubahan yang bekesinambungan dan progresif dalam organisme,dari lahir sampai mati,(2) pertumbuhan ,(3) perubahan dalam bentuk dan dalam, integrasi dari bagian-bagian jasmaniah kedalam bagian-bagian fungsional, (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), “perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan,sifat dan-cri-ciri yang baru. Di dalam itilah perkembangan juga tercakup konsep usia,yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian”.
Menurut para pengikut gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertenu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.
Menurut F.J.Monks, dkk., pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kea rah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali”. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai”proses yang kekal dan tetap yang menuju kea rah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi,berdasarkan pertumbuhan,pemasakan, dan belajar.Santrock menjelaskan pengertian perkembangan adalah bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar,melainkan di dalammnya juga terkandung serangakaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar. Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahap berikutnya,yang kian hari kian bertambah maju,mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Ini menunjukkan bahwa sejak masa-masa konsepsi sampai meninggal dunia,individu tidak pernah statis,melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan.selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja misalnya,ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental,jasmani dan rohani sebagai ciri-ciri memasuki jenjang kedewasaan. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan diri individu ini terus berlangsung tanpa henti meskipun kemudian laju berkembangnya semakin hari semakin pelan, setelah ia mencapa titik puncaknya.
 Dari semua pengertian perkembangan yang dipaparkan oleh para ahli, semuanya mempunyai subtansi yang sama. Perkembangan adalah proses perubahan pada diri manusia baik dari segi jasmani (kuantitatif) maupun  non fisik (kualitatif) yang terjadi akibat pengalaman belajar dan kematangan nya. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan berapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu. Walaupun demikian seorang anak dalam banyak hal tergantung kepada orang dewasa, misalnya mengkonsumsi makanan, perawatan, bimbingan, perasaana aman, pencegahan penyakit dan sebaginya. Oleh karena itu semua orang-orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus mengerti persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang.
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, diantaranya adlah faktor lingkungan. Bila lingkungan karena suatu hal menjadi buruk, maka keadaan tersebut hendaknya diubah (dimodifikasi) sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Pengertian Perkembangan dalam Perspektif islam
Adapun  perkembangan menurut Islam adalah proses perubahan  dan pertumbuhan manusia yang dikaji dari perspektif Al-Quran dan Al-Hadist. Hal ini merupakan prinsip utama dari perkembangan psikologi islami. Ketika berbicara tentang perkembangan psikologi islami maka ketentuan Allah SWT tidak dapat dipisahkan dari terbentuknya wujud manusia baik dari aspek fisik (kuantitatif) maupun non fisik ( kualitatif). Dengan demikian, dalam islam faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan meliputi faktor hereditas, faktor lingkungan, dan faktor ketentuan Allah SWT[3].
Al-Quran mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari berbagai tahapan progresif pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain, kehidupan manusia memiliki pola tahapan-tahapan tertentu yang termasuk tahapan dari pembuahan sampai kematian. Tahapan yang dilewati manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan sesuatu yang telah dirancang, ditentukan, dan ditetapkan langsung oleh Allah SWT.
Salah satu firman Allah yang menyatakan hal ini :
.... dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan segalanya dengan ukuran-ukuran dengan serapi-rapinya. (QS Al-Furqon : 2).
Hal ini dengan jelas menyatakan bahwa kehidupan dari segala sesuatau telah ditentukan dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap aspek secara proposional terlengkapi.
Menurut Al-Quran, pertumbuhan dan perkembangan manusia memiliki pola yang relatif sama pada umumnya. Pola yang terjadi adalah bahwa setiap individu tumbuh dan berkembang dari keadaan yang lemah menuju keadaan yang kuat dan kemudian kembali ke keadaan yang lemah lagi. Firman Allah SWT dalam Al-Quran :
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (QS Al-Rum : 45)
Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu dan diantara kamu ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui segala sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( QS Al-Nahl :70 ).
Selama proses perkembangan dan pertumbuhan manusia dari lemah menuju kuat kemudian menuju lemah lagi. Dari masa sebelum lahir hingga kematiannya. Selama ini pula manusia mengalami fase-fase perubahan. Dimana pada setiap fase-fase ini mempunyai karakteristik tertentu baik sikap, mental, moral, kemampuan fisik dan kemampuan bernalar.[4]
B.     Fase-Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
Fase perkembangan disini maksudnya adalah penahapan atau periodesasi rentang kehidupan manusia yang ditandai oleh ciri-ciri atau pola-pola tingkah laku tertentu.Meskipun masing-masing anak mempunyai masa perkembangan yang berlainan atu sama lain,apabila dipandang secara umum,ternyata terdapat tanda-tanda atau ciri-ciri perkmbangan yang hampir sama antara anak satu dengan yang lainnya.
Setiap anak berkembang dengan karakteristik tersendiri. Hampir sepanjang waktu perhatian kita tertuju pada keunikan masing-masing. Sebagai manusia, sctiap orang melalui jalan-jalan yang umum. Setiap diri kita mulai belajar berjalan pada usia satu tahun, berjalan pada usia dua tahun, tenggelam pada -permainan fantasi pada niasa kanak-kanak dan belajar mandiri pada usia remaja. Menurut Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Dalam perkembangan terdapat pertumbuhan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil (produk) dari beberapa proses: proses biologis, proses kognitif dan proses sosial.[5]
      Atas dasar perbedaan dalam suatu periode inilah maka para ahli mengadakan fase-fase perkembangan pada manusia. Dengan adanya pembagian fase-fase ini tidak berarti bahwa antara fase yang satu terpisah terpisah secara deksrit dengan fase yang lain,akan tetapi hanya sekedar untuk memudahkan pemahaman dan pembahasan mengenai Fase perkembangan Elizabeth B.Hurlock secara lengkap telah membagi fase perkembangan manusia dalam sepuluh fase/masa perkembangan,yaitu:
1).Fase Pranatal (Masa Sebelum Lahir), Masa pranatal ini berlangsung dari sejak terjadinya konsepsi atau vertilasi sampai bayi lahir. adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan kemampuan berperilaku, dihasilkan dalam waktu Iebih kurang Sembilan bulan 10 hari atau 280 hari.
Menurut perspektif Islam, kehidupan manusia telah dimulai sebelum lahir. Manusia memiliki ruh yang telah hidup sebelum manusia terlahir di dunia yang disebut dengan hari mitsaq. Ruh ini yang kemudian akan ditiupkan oleh Allah SWT ke janin yang ada dalam kandungan sang ibu. Fase pranatal adalah masa perkembangan manusia saat di dalam kandungan. Fase pranatal digambarkan oleh Al-Quran dalm surat Al-Mukminun ayat 12-14yang artinya:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia itu dari saripati dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati tanah itu menjadi suatu tetesan (nutfah) yang tersimpan di tempat yang aman dan kokoh, kemudian tetesan itu kami olah menjadi segumpal darah (alaqoh), dan segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging (mudghoh), lalu segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang (idhom), selanjutnya tulang belulang itu kami bungkus dengan daging (lahm). Selanjutnya kami jadikan makhluk yang berbentuk lain dari yang sebelumnya. Maha Suci Allah pencipta yang paling baik.
Setelah masa perkembangan janin selama kurang lebih empat bulan, maka ruh akan ditiupkan dan di mulailah kehidupan manusia. Saat masih berada di dalam kandungan bayi dapat menangkap respon dari luar. Dengan begitu bayi sudah dapat belajar, merasa dan membedakan gelap dan terang. Hal yang patut untuk diperhatikan saat perkembangan bayi dalam kandungan adalah asupan gizi yang diberikan oleh ibu. Makanan-makanan yang dimakan oleh ibu akan sangat berpengaruh oleh bayi, apabila ibu terlalu banyak makan makanan yang mengandung zat-zat kimia hal ini akan sangat membahayakan kondisi bayi. Kemudian untuk pembentukan sikap dan perilaku bayi, seorang ibu harus pandai-pandai menjaga emosinya. Perkembangan bayi didalam kandungan sangat ditentukan oleh asupan-asupan ibu, baik asupan biologis maupun psikologis.

2). Fase infancy ( New Born ), Masa ini dimulai sejak lahir sampai bayi berumur kira-kira 15 hari. Masa ini merupakan masa pemberhentian (plateau stage) artinya masa tidak terjadi pertumbuhan / perkembangan. Masa ini dikenal juga dengan masa “resting age” yaitu masa istrahat guna menyesuaikan diri dengan keadaan baru di dunia ini. Masa ini merupakan masa yang lemah sebagaimana yang Al-Quran jelasakan dalam surat Ar-Rum ayat 54, artinya :  Allah Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan kamu sesudah lemah itu menjadi kuat... . Saat bayi pertama kali lahir, alat indra yang pertama kali berfungsi adalah indra pendengaran. Untuk itu Nabi Muhammad SAW mengintruksikan untuk mengadzani telinga sebelah kanan dan mengiqomati telinga sebelah kiri. Adapun ciri-ciri manusia saat bayi adalah:
a.       Pada bulan pertama bayi senang tidur.
b.     Hidupnya hanya makan, tidur dan seakan-akan hidupnya bersifat vegetatif seperti tumbuh-tumbuhan.
c.       Seakan-akan belum ada hubungan dengan dunia luar.
d.      Bergerak secara spontan, menggelepar dan sebagainya.

3).Fase Babyhood (bayi), masa ini berlangsung sejak mulai usia 2 minggu sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa ynng sangat bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya; bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi. Ciri-ciri masa ini adalah :
a)      Masa bayi merupakan masa dasar yaitu masa-masa pembentukan  dasar-dasar kehidupan yang sesungguhnya pada masa ini banyak pola perilaku, sikap dan pola ekspresi emosi terbentuk.
b)      Bayi berkembang pesat baik fisik maupun psikologisnya sehingga penampilan dan kemampuannya pada masa ini banyak mengalami perubahan.
Pada tahapan ini dialami seorang individu dimulai pada saat bayi sampai mencapai umur 3 tahun. Perkembangan fisik meliputi beroperasinya semua sistem rasa dan tubuh dengan tingkatan yang bervariasi, perkembangan otak yang kompleks dan tingginya pengaruh lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan fisik (ketrampilan) berlangsung dengan cepat. Perkembangan kognitif meliputi kemampuan untuk belajar dan mengingat peristiwa yang saat ini terjadi, pengunaan simbol dan kemampuan untuk memecahkan masalah diakhir tahun ke-2, dan berkembangnya pemahaman dan bahasa dengan cepat. Perkembangan psikososial meliputi terbentuk hubungan kelekatan dengan orang tua, caregiver dan orang lain dengan kuat, berkembangnya sistem kewaspadaan diri, adanya perubahan dari ketergantungan menjadi mandiri.

4). Fase Early Childhood ( Masa Kanak-Kanak Awal), Masa kanak-kanak awal ini berlangsung dari umur 2 sampai 6 tahun. Masa ini sering di sebut usia sulit/problematis karena memelihara/mendidik mereka sulit. Masa ini juga disebut sebagai usia main karena sebagian besar hidup anak waktunya dihabiskan untuk bermain. fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun ini, kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka belajar melakukan sendiri banyak hal dan berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan temannya. Memasuki kelas satu SD menandai berakhirnya fase ini.[6]
5). Fase Later Childhood  ( Masa Kanak-Kanak Akhir), Masa kanak-kanak akhir ini berlangsung dari umur 6 tahun sampai 12 tahun. fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 12  tahun ini, sama dengan masa usia Sekolah Dasar. Anak-anak mulai menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan sudah dapat mereaksi rangsanan intlektual , atau melaksanakan tugas tugas belajar yang menuntut kemampuan intlektual atau kemampuan kongnitif seperti membaca, menulis, menghitung. Periode ini di tandai dengan tiga kemempuan atau kecakapan baru, seperti mengklasisifikasikan, menyusun, dan mengasosiasikan angka angka atau bilangan. Dalam mengembangkan kemampuan anak maka sekolah dalam hal ini guru seyogiyanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertanyaan. Memberi komentar atau memberi pendapat tentang pelajaran. Secara formal mereka mulai memastiki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan pengendalian diri sendiri bertambah pula. [7]

6). Fase Adolescence (remaja) adalah masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa anak-kanak ke masa dewasa awal, yang dimulai kira-kira umur 11 - 12 tahun dan berakhir kira-kira umur 18 sampai 22 tahun. Yang dibagi atas 3 masa yaitu :
a)      Fase Pre adolescence; mulai usia 11 sampai 13 tahun untuk wanita dan usia-usia sekitar setahun kemudian bagi pria Remaja mengalami perubahan-penibahan fisik yang sangat cepat, perubahan perbandingan ukuran bagian-bagian badan, berkembangnya karakteristik seksual pada remaja perempuan maupun laki-laki.
b)      Fase Early Adolescence; mulai usia 13-14 tahun sampai 16-17 tahun,Pada masa ini ditandai dengan gejala-gejala bahwa anak itu sudah mencapai baligh, yaitu haid pertama kali pada anak perempuan dan basah malam pada anak laki-laki..
c)      Fase Late adolescence; Pada fase ini dilakukan upaya-upaya untuk mandiri dan pencarian identifas diri. Pemikirannya Iebih logis, abstrak dan idealis. Semakin lama banyak waktu dimanfaatkan di luar keluarga .masa-masa akhir dari perkembangan seseorang atu hampir bersamaan dengan masa ketika seseorang tengah menempuh perguruan tinggi. yang berlangsug hingga mencapai usia kematangan resmi secara hukum yaitu 21 tahun.

Hal utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini, seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman.    Sementara Salzman mengemukakan ”bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung terhadap orang tua ke arah kemandirian minat minat seksual, perenungan diri, perhatian terhadap estestika dan isu-isu moral”.
Dalam budaya Amerika, priode ini di pandang sebagai masa ”strom and strees” frustasi dan penderitaan , konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan terealisasi dari kehidupan sosial budaya orang dewasa.[8]

Di akhir masa remaja, si remaja umumnya mengalami ambang dewasa, yaitu para remaja menjadi gelisah untk meninggalkan tingkah laku remaja belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa dirinya telah hampir dewasa, merka berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa.
Ada 7 kategori minat yang paling penting dari para remaja masa kini yaitu :
a.       Minat rekreasi.
b.      Minat pribadi dan sosial.
c.       Minat terhadap pekerjaan.
d.      Minat terhadap agama.
e.       Minat terhadap simbol status.
f.       Minat kepada pendidikan.
Selain dari minat anak,fungsi keluarga sangat berperan diantaranya :
a.       Fungsi biologis.
b.      Fungsi ekonomis.
c.       Fungsi pendidikan.
d.      Fungsi sosialisasi.
e.       Fungsi perlindungan.
f.       Fungsi rekreatif.
g.       Fungsi agama.[9]

7). Fase Early adulthood  (masa awal dewasa), periode ini disebut juga pada fase kematangan  dari umur 21 tahun ke atas ,seseorang mulai menyadari kekurangan dan kelebihannya yang dihadapi dengan sikap sewajarnya. Ia mulai dapat menghargai pendapat orang lain karena menyadari oranglain pun punya hak yang sama.masa inilah yang merupakan masa bangkitnya atau terbentuknya kepribadian menuju kemantapan. Kedewasaan seseorang memang tidak bisa diukur dengan usia, namun secara umum masa dewasa dimulai saat berakhirnya masa remaja akhir. Hal itu biasanya ditandai dengan berakhirnya konflik – konflik dan gejolak masa remaja.
8). Fase Latter Maturity (masa usia lanjut), ialah periode perkembangan yang bermula pada usia 50 tahun ke atas dan berakhir pada kematian Perubahan fisik yang menyebabkan seseorang berkurang harapan hidupnya disebut proses menjadi tua. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru. (Monks, Knoers, Haditono, 1982). Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan. Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan..
Pada saat ini para ahli berpendapat bahwa perubahan-perubahan akan berakhir pada fase ini. Mereka mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses yang terjadi sepanjang hayat.Setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan manusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Tugas fase yang muncul dalam setiap perkembangan, merupakan keharusan universal dan idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegiatan belajar terampil melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yang lazim terjadi pada manusia normal. Selain itu, hal-hal lain yang juga menimbulkan tugas-tugas perkembangan adalah:
● adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembanangan tertentu
● adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang sedang berkembang itu sendiri, dan
● adanya tuntutan kultural masyarakat.
Setiap anak atau individu berkembang melalui tahap perkembangan. Setiap tahap, terutama tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Erickson dan Havigurst mempunyai tema yang menggambarkan tugas utama dari masa itu. Setiap tahap juga memiliki tugas-tugas perkembangan konkrit yang penting, yang harus dicapai si anak atau individu.
Dalam rangka memfungsikan tahap-tahap perubahan yang menyertai perkembangannya manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tententu umpamanya kebiasaan belajar berjalan dan berbicara pada rentang usia 1-5 tahun. Belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tententu pada saat atau masa perkembangan yang tepat dipandang berkaitan langsung dengan tugas-tugas perkembangan berikutnya.



C.    Aspek – Aspek Pertumbuhan Dan Perkembangan

1.      Perkembangan Aspek Fisiologis
Perkembangan fisik atau yang diebut juga Pertumbuhan fisiologis menjadi tolak ukur perkembangan bayi.perubahan yang terjadi adalah menyangkut semua organ dan struktur organnya, seperti : organ fisik dalam misalnya jantung, paru-paru, otak dan sebagainya semuanya mengalami perubahan – perubahan secara kuantitatif yaitu semakin besar, semakin banyak, semakin lengkap strukturnya, pertumbuhannya akan selesai apabila semua organ fisiknya mencapai kematangan, sehingga anak mencapai kedewasaan fisik.semua merupakan konsekuensi dari proses pemeliharaan dari orangtuanya. pemberian makanan yang bergizi dan stimulasi eksternal akan memacu perkembvangan fisik,kongnitif maupun psikomotorik ,selain itu fungsi kerja organ-organ fisik yang memadai,sehat dan normal meningkatkan kinerja aktifitas bayi dalam kehidupan sehari-hari.Aspek perkembangan fisik bayi ini dijabarkan menjadi lima antara lain system organ tubuih system pperedaran darah system pernafasan system pencernaan makanan system pengatur suhu tubuh.
a)      Sistem Organ Tubuh
Sebagai makhluk individual yang sudah berpisah dari rahim ibunya,maka seorang bayi mulai mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungan hidupnya.Susunan istem organ yng dimiliki bayi telah berkembang secara lengkap dan matang.tetapi tak didukung oleh kemamp[an untuk mengkordinasikan dengan baik,sehingga beluim dapat difungsikan secara sadar dan mandiri oleh bayi. Artinya bayi belum dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan koordinasi system saraf,seperti kegiatan psikomotorik halus maupun ketrampilan motorik kasar.oleh karena itu,aktivitasbayi bersifat pasif yakni memerlukan rangsangan dari luar dan biasanya berada diseputar tempat tidurnya.
b)      Sistem Peredaran Darah
Selama masa di kandungan,system peredaran darah janin dipengaruhi oleh plasenta yang dihubungkan dengan rahim ibunya. Tetapi setelah lahir, system predaran darah bayi sudah terpisah dari plasenta dan berjalan sebagaimana mestinya eperti orang dewasa lainnya. Setelah lahir,detak jantuk bayi bekerja secara cepat dan cenderung tak teratur,sehingga hal ini mempengaruhi pada ketidak stabilan tekanan darahnya. Namun hal ini hanya betlangsung kurang-lebih selama sepuluh hari,karena kondisi internal bayi ssedang melakukannproses penyesuaian diri dengan keadaan di luar dirinya temperature-suhu, makanan,minuman, maupun tempt tinggal.sesudah itu system peredaran darah bayi akan menjadi normal seperti orng dewaa lainnya.
c)      Sistem Pernafasan
Semaa dikandungan, janin bernafas melalui tali plasenta.Namun kemudian,setelah lahir ,bayi harus melakukan pernafasan sendiri,tanpa bantuan dengan tali plasenta lagi. Oleh karena itu,bayi yang baru lahir akan usai pemotongan tali plasenta makin memperjelas keterpisahan bayi dari rahim ibunya,sehingga hal ini mendorong bayi untuk memanfaatkan system pernafasan sebagai cara bayi menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternalnya.organ-organ internal petrti paru-paru,tenggorokan dan organ ekernal hidung,mulut egera brfungsi dengan baik. Bayi-bayi yang dilahirkan dalam keadaan premature,umumnya mengalami gangguan pernafasan. Hal ini terjadi karena organ-organ item pernafasan belum siap dipergunakan untuk benafas.oleh karena itu bayi premature haru dimasukkan kedalam incubator untuk mendapatkan suhu atau temperature yang sesuai dengan suhu didalam rahim ibunya. Dengan demikian,bayi akan mudah melakukan pernafasan.namun demikian,bila bayi telah siap untuk bernafas secara mandiri,maka harus keluar dari masa inkubasi tersebut.
d)     Sistem Pencernaan Makanan
Demikian pula,sejak lahir bayi tak lagi memperoleh makanan dari tali plasenta,tetapi ia harus dapat menelan dan mencerna makanan yang diterima melalui mulutnya.Sistem pencernaan bayi harus disesuaikan dengan bahan-bahan makanan yang dikonsumsinya,seperti air susu ibu,organ perut atau lambung bayi masih lemah dan hanya dapat menerima ASI. Hal ini berlangsung kira-kira antara atu sampai tiga bulan pertam.Bayi yang menerima air susu ibu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.
Menginjak usia empat bulan,bayi sudah memperoleh bahan makanan tambahan,eperti bubur atau biscuit.meskipun demikian,pemberian bahan makanan tersebut harus hati-hati agar tidak tidak menimbulkan stress pada bayi.Cara pemberian bahan makanan tambahan bermanfaat untuk mengajar,mendidik dan melatih bayi untuk menelan maupun mencerna bhan-bahan yang sedikit lebih keras dibandingkan asi.dengan demikian makin bertambah hari bayi akan makin mampu untuk menyesuaikan diri dengan baik dan fungsi pencernaan berjalan lancar.
e)      Reaksi menangis pertama kali setelah kelahiran dianggap sebagai upaya bayi untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan suhu diluar. Setlah lahit,bayi belajar untuk dapt mmbedkan kondisi suhu antara hidup didaam rahim mpun diluar rahim. Didalam rahim,ia merasakan sangat nyaman dan hangat. Ia tak pernah mersakan panas,dingin,tekanan atau stress langsung dari lingkungan luar. Tetapi ketika lahir,mau tak mau bayi harus dapat menghadapinya.sebagi konekuensi pad bayi-bayi yang belum mampu beradaptasi dengan baik,maka bayi seringkali menangis,sakit dan rewel terus-menerus.hal inilah dianggap sebagai stress lingkungan sosial yang dialami oleh bayi. Bagi bayi-bayi yang terbiasa menghadapi kenyataan tersebut,maka mereka tak akan merasa kaget dan tetap tenang,nyaman,dan aman dalam beradaptasi.

2.      Perkembangan Aspek Kongnitif
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang/anak itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi .
Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi/perasaan.

Teori perkembangan kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan mengiterprestasikan obyek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri dan fungsi dari objek – objek, seperti mainan, perabot dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua, teman. Bagaimana cara anak belajar mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa,

Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi walaupun proses berfikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasikan oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya (Hetherington & Parke, 1975).
Adapun perkembangan Kongnitif adalah salah satu aspek perkembangan mental psikologis yang terjadi pada diri si anak yang mencakup semua aspek mental psikologis anak baik segi pengetahuan, keterampilan, kecerdasan, moral, agama, sikap, reaksi,memecahkan masalah merencanakan masa depan dan aspek – aspek mental psikologis lainnya yang semuanya itu melalui proses perkembangan akan mengalami perubahan secara kuantitatif dan kualitatif sehingga si anak bukan saja semakin banyak pengatahuan dan kemampuannya, tetapi juga semakin baik kualitas pengatahuan dan kemampuan yang dimilikinya tentang bagaimana anak mempelajari ,memperhatikan dan memikirkan lingkungannya.[10]

3.      Perkembangan Aspek Psikososial
Perkembangan psikoosial adalah prosesperubahan kemajuan-kemajuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan oial yang lebih luas.dalam proses perkembangannya peserta didik diharpkan mengrti orang lain,mengenli apa yang dipikirkan,dirasakan dan diinginkan serta dapat menempatkan diri pada sudut pandang oranglain tanpa kehilangan dirinya sendiri.Dengan proses pertumbuhan fisik dan perkembangan mental psikologis yang diperoleh anak secara maksimal dapat diharapkan si anak akan tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang baik dan berkualitas sebagaimana yang diharapkan dirinya sendiri, juga oleh orang tua dan masyarakatnya.





D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
  1. Menurut Teori Empirisme 
        Teori empirisme disebut juga teori tabularasa dan environmentalism. Teori ini dipelopori oleh JOHN LOCKE (1632-1704). Menurut teori empirisme, perkembangan individu ditentukan oleh lingkungannya. Teori ini beranggapan bahwa pembawaan itu tidak ada. John Locke menyatakan bahwa pada saat dilahirkan, jiwa individu dalam keadaan kosong (ibarat tabularasa yang belum tertulis), dan lingkunganlah yang akan mengisi kekosongan tersebut.
2.   Menurut Teori Nativisme 
   Teori nativisme dengan tokohnya ARTHUR SCHOPENHASUER (1788-1880), beranggapan bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (pembawaan). Bila individu dilahirkan dengan pembawaan yang baik dengan sendirinya perkembangannya anak baik, dan sebaliknya.
3.    Menurut Teori Konvergensi 
Teori konvergensi disebut juga teori interaksionisme. Teori ini dikemukakan oleh WILLIAM STERN (1871-1939). Menurut Stern, perkembangan individu merupakan hasil perpaduan atau interaksi antara faktor pembawaan dengan faktor lingkungan. Pembawaan sudah ada pada masing-masing individu sejak kelahirannya.

Secara garis besarnya Pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan hasil interaksi antara faktor internal,faktor eksternal,dan faktor umum lainnya. secara  garis besarnya, faktor-faktor tersebut dapat dibedakan atas tiga faktor,yaitu:

1).Faktor yang berasal dari dalam individu (faktor internal)
a.       Gen, adalah faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam sel makhluk hidupyang tersusun dari DNA,yakni molekul kompleks yang berisi informai genetika yang berpengaruh pada setiap struktur makhluk hidup dan perkembangannya, pentingnya genetika dan keturunan bagi cirri-ciri fisik seperti warna mata,tinggi badan,dan lainya tlah ditetapkan dengan tegas. walaupun gen bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhinya. Namun, Sejak- awal tahun 1980-an semakin diakuinya pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian perilaku genetik yang mendukung, pentingnya pengaruh keturunan menunjukkan tentang pentingnya pengaruh lingkungan
Perilaku yang kompleks yang menarik minat para ahli psikologi (misalnya temperamen, kecerdasan dan kepribadian) mendapat pengaruh yang sama kuatnya baik dari faktor-faktor lingkungan maupun keturunan (genetik).
b.      Hormon, merupakan senyawa organik (zat kimia) pada manusia dan sebagian hewan. Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin merupakan kelenjar buntu, artinya kelenjar itu tidak memiliki saluran. Hasil sekresi kelenjar endokrin (hormon) langsung masuk ke pembuluh darah. Hormon diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah. Hormon mempengaruhi reproduksi, metabolisme, serta pertumbuhan dan perkembangan pada manusia dan sebagian hewan. Pada manusia, hormon pertumbuhan (Growth Hormone/GH) mempengaruhi kecepatan pertumbuhan seseorang. Seseorang yang kelebihan hormon akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa/gigantisme. Sebaliknya, jika seseorang kekurangan hormon pertumbuhan maka dapat mengakibatkan kekerdilan. Hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar gondok (kelenjar tiroid) mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Bila pada masa kanak-kanak kekurangan hormon tiroksin mengakibatkan kretinisme. Kretinisme yaitu pertumbuhan yang lambat dan mental yang terbelakang, sehingga perkembangannya juga terhambat.
c.       Sifat-sifat keturunan,sifat-sifat keturunan yang individu dipusakai dari orangtua atau nenek moyang dapat berupa fisik dan mental. Mengenai fisik misalnya bentuk muka,hidung,bentuk badan,suatu penyakit.sedangkan mengenai mental misalnya sifat pemalas, sifat pemarah,pendiam,dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa sifat-sifat keturunan ikut mnentukan perkembangan seseorang. mekipun demikian, karena sifat-sifat keturunan seumpma bibit yang tumbuhnya dpat dipengruhi dan dipupuk ke arh yang baik atau yang buruk,maka ini berarti bahwa pendidikan dan lingkungn dapat menghambat tumbuhnya sifat-sifat yang baik dan mengembangkan sifat-sifat yang baik.
d.      Bakat atau bawaan, anak dilahirkan dengan membawa bakat-bakat tertentu. Bakat ini dapat diumpamakan sebagai bibit kesanggupan atau bibit kemungkinan yang terkndung dalam diri anak. setiap individu memiliki bermacam-macam bakat sebagai pembawanya. seperti  bakat musik,seni,agama,akal yang tajam,dan sebaginya. anak yang mempunyai bakat music misalnya,niscaya minat dan perhatiannya akan sangat besar terhadap musik. Ia akan mudah mempelajarinya,mudah mencapai kecakapan-kecakapan yang berhubungan dengan musik.apabila didukung oleh pendidikan dan lingkungan yang mendukung bakatnya.dengan demikian jelaslah bahwa bakat atau pembawaan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan individu.
e.       Dorongan dan instink, dorongan adalah kodrat hidup yang mendorong manusia melaksankan sesuatu atau bertindak pada saatnya.sedangkan instink atau naluri adalah kesanggupan atau ilmu tersembunyi yang menyuruh atau membiikan kepada manusia bagaimana cara melaksanakan dorongan batin. kemampuan instink merupakan pembawaan sejak lahir,yang dalam psikologi kemampuan instink ini termauk kapabilitas,yaitu kemampun berbuat sesuatu dengan tanpa melalui belajar,seperti dorongan mempertahnkan diri misalnya pada bayi ketika mencari makan.dengan instink yang dimilikinya ia berusaha menangis saat kelaparan untuk mencari susu ibunya,sehingga memperoleh mkanan untuk mempertahankan hidupnya.dorongan dan instink ini juga sangat berpengaruh besar dalam perkembangan indvidu.

2). Faktor yang berasal dari luar diri individu(eksternal)
Sebagaimana telah dijelaskan bawa perkembangan ini didorong dari dalam,dan didorong dri luar,dan dorongan itu dapat melaju atau trhmbt oleh factor-faktor yang brada di luar dirinya.diantara faktor luar itu adalah:
a.      Nutrisi/Makanan, merupakan faktor yang sangatlah berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan individu,terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan anak, oleh sebab itu dalam rangka prkembangan dan pertumbuhan anak menjadi sehat dan kuat ,perlu memperhatikan makanan yang bergizi agar dapat menjmin prtumbuhn yang sempurna. Nutrisi bagi manusia dapat berupa protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Protein merupakan bahan pembangun sel-sel tubuh. Oleh karena itu dalam masa pertumbuhan harus mendapatkan protein yang cukup.
Akan tetapi apabila ditinjau dalam prpspektif agama islam,makanan yang mengandung gizi saja tidak cukup dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, melainkan harus disempurnakan dengan tingkat kehalalan dan kebersihan dari makanan itu sendiri, sebagaimana firman Allah: ”Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah di rezekikan kepadamu…(QS.Al-Maidah;88). Pentingnya memperhatikan kualitas makanan dari segi kehalalanya karena menurut islam makanan mempunyai pengaruh yang besar, tidak saja terhadap pertumbuhandan kesehatan jasmani manusia.melainkan juga terhadap perkembangan jiwa, pikiran dan tingkah laku seseorang.[11]
b.      Iklim, atau keadaan cuaca juga berpengaruh terhadap perkembangan dan kehidupan anak.sifat-ifat iklim alam dan udara mempengaruhi pula sifat-sifat individu dan jiwa bangsa yang berbeda dalam iklim yang bersangkutan. Seseoreamg yamg hidup dalam iklim tropi yang kaya raya misalnya,akan terlihat jiwanya lebih tenang dibandingkan dengan seseorang yang hidup di iklim dingin. Sehingga perjuangan hidupnya pun cenderung lebih santai.hal ini juga terlihat pada besar tubuh seorang anak.kesehatan dan kematangan usianya banyak dipengaruhi oleh banyak udara yang segar dan bersih serta sinar matahari yang diperolehnya,khususnya pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya. Kenyataan itu akan lebih nyata jika kita membandingkan antara anak-anak yang hidup dilingkungan yang baik dan sehat dengan anak-anak yang hidup di lingkungan yang  buruk(kumuh) dan tidak sehat.keadaan iklim dan lingkungan tersebut cukup berpngeruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan mental anak,meskipun para ahli masih terus berdebat tentang ejauh mana pengaruh-pengaruh itu terjadi pada perkembangan seorang anak.
c.       Ekonomi, latar ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan anak, orangtua yang ekonominya lemah, yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan pokok anaknya dengan baik,erring kurang memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anakjnya. Mereka menderita kekurangan-kekurangan secara ekonomis, sehingga menghambat pertumbuhan jasmani dan perkembangan jiwa anaknya.Bahkan tidak jarang tekanan ekonomi mengakibatkan pada tekaan jiwa yang pada gilirannya menimbulkan konflik antara Ibu dan Bapak,antara anak dan Orangtua,sehingga melahirkan rasa rendah diri pada anak.[12]
d.      Kebudayaan, latar belakang suatu bangsa sedikit banyak juga mempengaruhi pertkembangan seseorang.Misalnya latar belakang budaya desa, keadaan jiwnya masih murni,maih yakn akan kebesaran dan Kekuasaan Tuhan,akan terlihat lebih tenag, karena jiwanya masih berada dalam lingkungan kultur,kebudayaan bangsa sendiri yang mengandung petunjuk-petunjuk dan falsafah yang diramu dari pandangan hidup keagamaan. Lain halnya dengan eseorang yang hidup dalm kebudayaan kota yang sudah dipengaruhi oleh kebudayaan asing.
e.       Lingkungan Faktor ini yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seorang tumbuh dan di besarkan, norma dalam keluarga, pengaruh-pengaruh lain seseorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini mempunyai peranan penting dalam membentuk kepribadian karena kedudukan anak dalam lingkungan keluarga ini sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang
f.       Sosial, sejalan dengnan pertumbuhan badannya, bayi yang telah menjadi anak dan seterusnya dan menjadi dewasa akan mengenal lingkungan yang luas dan mengenal banyak manusia. Perkenalan dengan oranbg lain dimulai dengan mengenal ibunya, kemudian mengenal ayahnya dan saudara-saudaranya dan akhirnya mengenal manusia diluar keluarganya. Selanjutnya manusia yang dikenalnya semakin banyak dan amat heterogen, namunp pada umumnya setiap anak akan lebih tertarik pada teman sebayanya. Anak membentuk kelompok sebanya sebagai dunianya, memahami dunia anak, dan kemudian dunia pergaulan yang lebih luas. Akhirnya manusia mengenal kehidupan bersama, kemudian bermasyarakat atau berkehidupan sosial. Dalam perkembangannya setiap manusia pada akhirnya mengetahui bahwa manusia itu saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi.

3).Faktor-Faktor Umum
Faktor-faktor umum maksudnya unsur-unsur yang dapat digolongkan kedalam kedua penggolongan tersebut diatas,yaitu factor dari dalam(internal)dan dari luar (eksternal) diri individu. Dengan kata lain jika faktor-faktor.yang mempengaruhi perkembangan itu merupakan campuran dari kedua unsur tersebut, maka dikatakan sebagai faktor umum,diantara faktor-faktor umum itu ialah:
a.      Intelegensi merupakan salah satu faktor umum yag mempengaruhi perkembangan anak.Tingkat inelegensi yang tinggi erat kaitannya dengn kecepatan perkembangan.sedangkan tingkat intelegensi yang rendah erat kaitannya dengan kelambanan perkembangan.Kecerdasan atau daya pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Pertumbuhan saraf yang telah matang akan diikuti oleh fungsinya dengan baik, dan oleh karena itu seorang manusia akan juga mengalami perkembangan kemampuan berpikirnya. Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwal kecerdasan itu diwariskan (diturunkan). Ia juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan minim dalam kecerdasan. Perkembangan lebih lanjut tentang perkembangan kecerdasan ini ditunjukkan pada prilakunya, yaitu tindakan menolak dan memilih sesuatu. Tindakan itu telah mendapatkan proses pertimbangan atau lebih dikenal dengan proses analisis, evaluasi, sampai dengan kemanpuan menarik kesimpulan dan keputusan. Ketika seseorang bisa melakukan peramalan atau perediksi, perencanaan dan berbagai kemampuan analisis dan sintesis, hal ini dikenal dengan perkembangan kognitif.
b.      Ras menurut beberapa ilmuan ras juga turut mempengaruhi perkembangan individu.Misany,anak-anak dari Ras Mediterranan sekiuar laut tengah mengalami perkembangan fisik lbih cepat dibandingkan dengan anak-anak Negro dan Ras Indian,ternyta perkembngannya lebih cepat dibandingan dengan anak-anak dari ras bangsa-bngsa yang berkulit putih dan kuning.
c.       Kesehatan, merupakan salah satu faktor umum yang mempengarui perkembanan individu. Mereka yang kesehatan mental dan fisiknya baik dan sempurna akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang memadai,sebaiknya mereka yang mengalami gangguan kesehatan, baik secara ental maupun fisik,perkembangan dan pertumbuhannya juga akan mengalami hambatan.
d.      Jenis kelamin, juga merupakan peranan yang penting dalam perkembangan fisik dan mental eorang anak.dalam hal anak yang baru lahir misalnya,anak laki-laki sedikitg lebih besar dari pada anak perempuan,tetapi kemudian anak perempuan tumbuh lebih cepat daripada anak laki-laki.demikian juga dalam hal kematangannya, anak perempuan lebih dahulu dari anak laki-laki.
e.       Sikap, Nilai dan Moral
Bloom (Woolfolk dan Nicolich, 1984: 390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar kelompok menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaaan pengetahuan (kognitif), penguasaaan nilai dan sikap (afektif) dan penguasaan psikomorik.
Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikis manusia, manusia mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai, ditunjukkan hal-hal yang boleh dan hal-hal yang tidak boleh, yang harus dilakukan  dan yang dilarang. Menurut Piaget, pada awal pengenalan nilai dan prilaku seta tindakan iti masih bersifat “paksaan”. Akan tetspi sejalan dengan perkembangan inteleknya berangsur-angsur manusia mulai berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga dan  semakin lama semakin luas sampai dengan ketentuan  yang berlaku di dalam masyarakat dan Negara.
E.      Aliran-aliran dalam Pertumbuhan dan Perekmbangan Manusia dalam ilmu Pendidikan
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannyayang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orangtuanya. diantara aliran-aliran pendidikan yang ada yaitu:
1.      Aliran Nativisme.
Nativisme adalah suatu aliran yang secara ekstri menyatakan bahwa perkembangan manusia itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor pembawaan atau faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Para ahli yang berpendirian Nativis biasanya mempertahankan kebenaran konsep ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya.[13][5]
Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran filosof natifisme konon dijuluki sebagai aliran psimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa.
Diantara ahli yang dipandang sebagai nativis ialah Noam A. Chomsky kelahiran 1928, seorang ahli linguistic yang sangat terkenal hingga saat ini. Chomsky menganggap bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tetapi juga (yang lebih penting) oleh adanya “biological predisposition” (kecenderungan biologis) yang dibawa sejak lahir.
Namun demikian, Chomsky tidak menafikan sama sekali peranan belajar dan pengalaman berbahasa, juga lingkungan. Baginya, semua ini ada pengaruhnya, tetapi pengaruh pembawaan bertata bahasa jauh lebih besar lagi bagi perkembangan bahasa manusia (Bruno, 1987).
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir itulah yang menentukan perkembangannya dalam kehidupan. Nativisme berkeyakinan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaaan. Dengan demikian menurut mereka pendidikan tidak membawa manfaat bagi manusia. Karena keyakinannya yang demikian itulah maka mereka di dalam ilmu pendidikan disebut juga aliran Pesimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini adalah Schopenhaeur seorang filosof bangsa jerman. Nativisme berasal dari kata dasar natus = lahir, nativius = kelahiran, pembawaaan.
Kalau dipandang dari segi ilmu pendidikan tidak dapat dibenarkan: sebab jika benar segala sesuatu itu tergantung pada dasar, jadi pengaruh lingkungan dan pendidikan dianggap tidak ada, maka konsekuensinya harus harus kita tutup saja semua sekolah, sebab sekolah tidak mampu mengubah anak yang membutuhkan pertolongan. Tidak perlu para ibu, guru, orang tua mendidik anak-anak karena hal itu tidak aka nada gunanya, tak dapat memperbaiki keadaan yang sudah tersedia (ada) menurut dasar. Akan tetapi hal yang demikian itu justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah ternyata sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda, karena pendidikan itu adalah hal yang dapat, perlu, bahkan harus dilakukan. Jadi konsepsi nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak di pertanggung jawabkan.
Dengan demikian,faktor lingkungan atau pendidikan menurut aliran ini dikembangkan seseorang. Dalam ilmu pendidikan ini dikenal sebagai ilmu pedagogik pesimisme, yaitu pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak kearah kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidikan.
2.      Aliran Empirisme.
Menurut teori ini lingkungan adalah yang menjadi penentu perkembangan seseorang. Baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pendidikan. Jadi,teori ini menganggap bahwa faktor pembawaan tidak berperan sama sekali dalam proses perkembangan manusia.[14][6]
bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan.
Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari di dapat dari dunia sekitarnya yang berupa pengetahuan. Pengetahuan ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.
Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak.
Aliran empirisme dipandang berat sebelah, sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung.[
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricisim) dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “The School of British Empircism” (aliran empirisme inggris). Namun, aliran lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama “environmentalisme” (aliran lingkungan) dan psikologi bernama “environmental psychology” (psikologi lingkungan) yang relatif masih baru (Rober, 1988).
Doktrin aliran empirisme yang amat mashyur adalah “tabula rasa”, sebuah istilah g berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
Dalam hal ini para penganut empirisme (bukan empirisme) menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.
Jika seorang siswa memperoleh kesempatan yang memadai untuk mempelajari ilmu politik, tentu kelak ia akan menjadi seorang polisi. Karena ia memiliki pengalaman belajar di bidang politik, ia tak akan pernah menjadi pemusik, walaupun orang tuanya pemusik sejati.
Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman, sedangkan kemampuan dasar yang di bawa anak sejak lahir, di kesampingkan.  Padahal ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lungkungan tidak terlalu mendukung.
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil.
Manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik atau kearah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya.
Dengan demikian pendidikan diyakini sebagai sebagai maha kuasa bagi pembentukan anak didik. Karena pendapatnya yang demikian, maka dalam ilmu pendidikan disebut juga Aliran Optimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini yaitu John Locke.
3.      Aliran Konvergensi.
Sesuai dengan namanya,Konvergensi yaitu teori yang menjembatani atau menengahi kedua teori atau paham sebelumnya yang bersifat ekstrim yaitu teori nativisme dan empirisme. Sesuai dengan namanya konvergensi yang artinya perpaduan,maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan pengaruh kedua unsur pembawaan maupun unsur lingkungan,kedua-duanya sama-sama merupakan faktor yang dominan pengaruhnya bagi perkembangan. Menurut teori ini baik unsur pembawaan maupun unsur lingkungan kedua-duanya sama-sama merupakan faktor yang dominan pengaruhnya bagi perkembangan seseorang.[15][7]
Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai factor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stren (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman.
Aliran filsafat yang dipeloporinya disebut “personalisme”, sebuah pemikiran filosofis yang sangat berpengaruh terhadap disiplin-disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia. Di antara disiplin ilmu yang menggunakan asas personalisme adalah “personologi” yang mengembangkan teori yang komprehensif (luas dan lengkap) mengenai kepribadian manusia (Rober, 1988).
Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang berhubungan dengan proses perkembangan diatas, penyusun pandangan bahwa factor yang memengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam:
a.       Faktor Internal yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.
b.      Faktor Eksternal yaitu hal-hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungannya.
Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pndidikan bangsa jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik factor pembawaan maupun factor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi.
Teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
1)      Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.
2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3)      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang factor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu. Dari sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator ataukah informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran (The Teaching Machine, belajar berprogram, dan lain-lain). dan sebagainya.[16]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang ada pada bab sebelumnya maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
Pertumbuhan dan Perkembangan adalah dua buah kata yang mempunyai maksud hampir sama namun memiliki arti yang berbeda. Semua makhluk hidup atau organisme dalam hidupnya mengalami proses perubahan biologis. Perubahan tersebut terjadi disebabkan semua organisme mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan(Growth)adalah perubahan KUANTITATIF ( berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dst ) pada materiil sesuatu akibat dari adanya pengaruh dari lingkungan. Contoh : munculnya gigi baru, semakin bertambahnya jumlah gigi, semakin bertambahnya tinggi badan, dst.
Perkembangan ( Development ) adalah suatu proses perubahan ke arah kedewasaan atau pematangan yang bersifat KUALITATIF ( ditekankan pada segi fungsional ) akibat adanya proses pertumbuhan materiil dan hasil belajar dan biasanya tidak dapat diukur. Contoh : pematangan sel ovum dan sperma, munculnya kemampuan berdiri dan berjalan, dst.
Perkembangan dan pertumbuhan manusia adalah Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang alami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis dan memiliki tugas serta tahapan-tahapan perkembangan dan pertumbuhan manusia dari awal kehidupannya hingga akhir kehidupan
B.     Kritik dan Saran
Saran yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi perbaikan makalah ini. Dalam makalah ini. Saya menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna seperti apa yang teman-teman harapkan. untuk itu, jika terdapat kesalahan atau kekeliruan baik dalam pengetikan maupun dari presentasinya, penulis sangat mengaharap kritikan dan saran-sarannya dari teman-teman sekalian, dan membangun motivasi saya dalam penulisan makalah yang akan dating.. akhirnya penulis ucapkan terimakasih
DAFTAR PUSTAKA

Dra.Desmita, 2009.Psikologi Perkembangan Peserta Didik,Bandung,PT.Remaja Rosdakarya

Drs.H.M.Alisuf sabri.1996,psikologi pendidikan ,Jakarta : pedoman ilmu jaya.

Hasan Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami.Jakarta.PT. Raja Grafindo.
Diane E. Papalia, Dkk, 2008 Human Development, terjemahan A. K. Anwar, Jakarta : Kencana.

Dariato Agoes. 2007. Psikologi Perkembagan Anak Tiga Tahun pertama. Bandung. PT Refika Aditama.
Jhon W. Santrock, 2007. Perkembangan Anak, terjemahan Mila Rachmawati, Jakarta : Erlangga

H.Syamsu Yusuf LN M.Pd, 2000.psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung  ;PT.Remaja Rosdakarya
Tohirin.2008.psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam.Jakarta: PT.Raja Gravindo Persada.
Soetjiningsih.2014.Tumbuh kembang anak dan Permasalahannya.Jakarta:CV Sagung Seto.
Drs.H.M.Alisuf sabri, 1996.psikologi pendidikan .Jakarta : pedoman ilmu jaya.




[1] Dra.Desmita,Pikologi Perkembangan Peserta Didik,Bandung,PT.Remaja Rosdakarya : 2009.hlm.10-11
[2] Drs.H.M.Alisuf sabri,psikologi pendidikan (pedoman ilmu jaya,Jakarta : 1996) hal : 11
[3] Hasan Aliah B. Purwakania.. Psikologi Perkembangan Islami.(Jakarta.PT. Raja Grafindo).2006.hlm.44
[4] Hasan Aliah B. Purwakania.. Psikologi Perkembangan Islami.(Jakarta.PT. Raja Grafindo).2006.hlm.46
[5]  Diane E. Papalia, Dkk, Human Development, terjemahan A. K. Anwar, (Jakarta : Kencana, 2008)hal.24
[6] Dariato Agoes. Psikologi Perkembagan Anak Tiga Tahun pertama. (Bandung. PT Refika Aditama. 2007 )hlm.16
[7]Jhon W. Santrock, Perkembangan Anak, terjemahan Mila Rachmawati, ( Jakarta : Erlangga,2007 )hal.66-69
[8] Yusuf  Syamsu ,Psikologi Perkembangan Anak & Remaja,(bandung:PT Remaja Rosdakarya,2006)hlm.73-74
[9]. H.Syamsu Yusuf LN M.Pd,psikologi perkembangan anak dan remaja (PT.Remaja Rosdakarya Bandung : 2000) hal 39-41
[10] .Upton Penney, ,Psikologi Perkembangan,(Jakarta:erlangga.2012)hlm.32
[11] Tohirin..psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam.(Jakarta: PT.Raja Gravindo Persada.2008)hlm.15
[12] .Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak dan Permasalahannya. (Jakarta:CV Sagung Seto. 2014.)hlm.95

[13]. Drs.H.M.Alisuf sabri,psikologi pendidikan (pedoman ilmu jaya,Jakarta : 1996) hal : 35-36
[14][6] Ibid,hal 36.
[15][7] Opcid,37
[16] Drs.H.M.Alisuf sabri,psikologi pendidikan (pedoman ilmu jaya,Jakarta : 1996) hal : 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lets Tarbiyah sebelum menikah

Alhamdulillah masih dipertemukan dipenghujung bulan syawal yg katanya musim nikah..  Hehe..  Alhamdulillah dikabarkan ad beberapa teman yg ...