Jumat, 14 Oktober 2016

Psikologi Pendidikan : konsep dasar Perbedaan Individu dan Area perbedaan Individu

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Telah kita ketahui bahwa setiap individu itu unik yaitu tidak ada dua individu yang sama Persis baik dari sifat, karakter, maupun lainnya. Tiap masing- masing individu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Begitu halnya siswa, antara siswa satu dengan yang lain pasti berbeda. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis kepribadian dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini terlihat pada cara dan hasil belajar siswa itu sendiri. Perbedaan individu tersebut perlu adanya penanganan dari guru sebagai pembimbing dalam rangka upaya pembelajaran.
 Dalam pendidikan sekarang ini sistem pendidikan yang digunakan sendiri bersifat klasikal yaitu melakukan pembelajaran di kelas dengan hanya melihat siswanya saja sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan begitu juga dengan pengetahuannya yang hampir sama tidak berbeda satu sama lain yang kurang memeperhatikan masalah perbedaan dari masing-masing individu. Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara.
Oleh karena itu sebagai seorang guru hendaknya mampu memahami karakteristik maupun sifat-sifat dari masing-masing individu atau siswanya dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari individu?
2.      Apa sajakah Area perbedaan yang ada pada individu?
3.      Apa saja faktor-faktor penyebab perbedaan individu?
C.     Tujuan
1.      Menjelaskan definisi individu secara keseluruhan.
2.      Menjelaskan Area perbedaan yang ada pada individu.
3.      Mengetahui apa saja yang menjadi faktor perbedaan individu.



BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Dasar Perbedaan individu
A.      Pengertian Individu
Manusia atau individu adalah Makhluk yang dapat di pandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek material yang memepersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berfikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, makhluk yang dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya. Manusia merupakan kesatuan dari makhluk individu dan sosial, kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan. Artinya manusia merupakan kesatuan individu yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan dan oknum. Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang orang dewasa dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut Individu. Individu menunjukkan kedudukan seorang sebagai orang-perorang atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang-perorang, berkaitan dengan perseorangan.
Menurut Lindgren (1980) makna “perbedaan” dan “perbedaan individual” menyangkut tentang variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik dan psikilogis. Perbedaan Individual menurut Chaplin (1995:244) adalah “sebarang sifat atau perbedaan kuantitatif dalam suatu sifat, yang bisa membedakan satu individu dengan individu lainnya”[1].
Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilkinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Jadi, seorang anak harus dibantu oleh guru, orang tua dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkannya dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia.
B.     Perbedaan Individu
Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua diri manusia mempuyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia-secara biologis dan sosial tiap-tiap individu mempunyai kecenderungana berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut[2].
Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual. Makna “perbedaan” dalam “perbedaan individual”  menurut Lindgreen (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.  Gerry (1963) dalam buku perkembangan peserta didik karya Sunarto dan B. Agung Hartono mengategorikan perbedaan individual seperti berikut:
1)      Perbedaan fisik, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2)      Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan suku.
3)      Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
4)      Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat kita peroleh bahwa perbedaan individual adalah hal-hal yang berkaitan dengan “psikologi pribadi” yang menjelaskan perbedaan psikologis maupun fisik antara orang-orang serta berbagai persamaannya.[3]
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorangpun yang sama kecmungkinan ada dua orang kelihatannya sama kalau anak tersebut kembar tetapi antara keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya : seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya.
Dari fisik, seorang guru cepat mengenal sisiwa di kelasnya satu persatu. apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain tentu setiap individu memiliki sifat-sifat psikis yang berbeda-beda.
C.     Area Perbedaan yang ada pada Individu
Berikut adalah beberapa Area perbedaan pada individu:
a.       Perbedaan Kognitif
Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar  sekolah menghasilkan tiga pembentukan  kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan  teknologi. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Hasil belajar dalam hal ini merupakan perpaduan antara pembawaan dengan pengaruh lingkungan. Proses pembelajaran adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki oleh anak.
Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar. Tes hasil belajar menghasilkan kemampuan kognitif yang bervariasi, sebab pada dasarnya setiap individu memiliki persepsi tentang hasil pengamatan terhadap suatu objek yang berbeda-beda. Intelegensi (IQ) sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Hasil – hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kemampuan kognitif berkolerasi positif dengan tingkat kecerdasan seseorang.[4]
b.      Perbedaan dalam Kecakapan Bahasa
Bahasa adalah salah satu kemampuan individu yang penting sekali dalam kehidupannya. Kemampuam berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis. Kemampuan berbahasa setiap individu berbeda. Kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan termasuk faktor fisik (organ untuk bicara).
Lancar atau tidaknya kemampuan berbahasa seseorang bergantung pada kondisi lingkungan dan pembiasaannya dalam berkomunikasi.[5]
c.       Perbedaan dalam Kecakapan Motorik
Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat (otak) untuk melakukan kegiatan. Kegiatan ini terjadi karena kegiatan kerja syaraf yang sistematis. Alat indra menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dlamm bentuk gerakan- gerakan  atau kegiatan. Dengan demikian ketepatan kerja jaringan syaraf  akan menghasilkan suatu bentuk kegiatanh yang tepat (sesuai antara rangsangan dan responnya). Kerja ini akan menggambarkan tingkat kecakapan motorik.
Syaraf pusat (otak) yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berfikir merupakan faktor penting dalam koordinasi kecakapan motorik. Ketidak tepatan dalam pembentukan persepsi dan penyampaian perintah akan menyebabkan kekeliruan respon atau kegiatan yang kurang sesuai dengan  tujuan[6].
Bertambahnya umur seseorang mengindikasikan adanya kematangan. Hal ini akan menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam berbagai hal, seperti kekuatan untuk mempertahankan perhatian, koordinasi  otot, kecepatan berpenampilan, keajegan untuk mengontrol, dan resisten terhadap kelelahan. Sehingga semakin bertambahnya usia  seseorang akan menunjukkan kecakapan motorik yang makin tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik  dipengaruhi oleh kematangan fisik dan tingkat kemampuan berfikir. Karena kematangan fisik dan kemampuan berfikir setiap individu berbeda sehingga kecakapan motorik setiap individu akan berbeda pula.
d.      Perbedaan dalam Latar Belakang
Sekelompok individu dengan perbedaan latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar atau sebaliknya menghambat prestasi belajar mereka. Misalnya, pengalaman-pengalaman belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi prestasinya dalam situasi belajar yang disajikan di sekolah.

Latar belakang individu dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor dari dalam misalnya, kecerdasan, kemauan, bakat, minat, emosi, perhatian, kebiasaan bekerja sama, dan kesehatan yang mendukung belajar.  Anak-anak juga berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis. Motivasi untuk belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Perbedaan latar belakang, yang mliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.
e.       Perbedaan dalam Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Bakat dapat juga diartikan sebagai kemampuan dasar yang menentukan sejauh mana keberhasilan seseorang untuk memperoleh keahlian atau pengetahuan tertentu bilamana seseorang diberi latihan-latihan tertentu. Misalnya seseorang yang mempunyai bakat numerical yang baik, bila diberi latihan-latihan akuntansi keuangan, akan mudah untuk menguasai masalah akuntansi, begitu pula sebaliknya.
Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau ketrampilan yang relatif bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus juga disebut juga talent.[7]
Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, kalau sedang bermain seperti anak seusianya, tetapi kalau membaca seperti anak berusia 10 tahun, kalau mengerjakan matematika seperti anak usia 12 tahun, dan kalau berbicara seperti anak berusia lima tahun. Yang perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalami kesulitan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus.
 Perkembangan bakat dimiliki secara individual. Bakat akan berkembang dengan baik jika mendapat rangsangan atau kesempatan dan pemupukan secara tepat. Sebaliknya, bakat tidak dapat berkembang sama sekali manakala lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang.
f.        Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
Belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Sedangkan Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk. Perbedaan kesiapan individu tidak saja disebabkan oleh keragaman dalam rentang kematangan tetapi juga oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.
Kondisi fisik yang sehat dalam kaitanya dengan kesehatan dan penyesuaian diri yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman disertai dengan rasa ingin tahu yang amat besar terhadap orang-orang dan benda-benda membantu perkembangan berbahasa dan belajar yang diharapkan. Sikap apatis, pemalu dan kurang percaya diri akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh dan latar belakang yang miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri.
g.       Perbedaan Tingkat Pencapaian.
Salah satu bentuk nyata untuk melihat perbedaan anak adalah dengan memeriksa hasil pencapaian dalam tes matematika standar. Tingkat pencapaian anak merupakan suatu fungsi yang menunjukkan nilai belajar anak. Murid dalam posisi puncak di suatu kelompok biasanya mampu belajar matematika dengan cepat, sementara murid dengan posisi terendah di dalam kelas biasanya merupakan pebelajar yang lambat. Pada posisi tengah-tengah, sekitar 50 persen diantaranya memiliki kemampuan yang merata dalam pencapaian matematika[8].
h.       Perbedaaan Lingkungan Keluarga
Anak-anak berasal dari berbagai lingkungan keluarga. Anak dari keluarga berada dengan pendidikan yang memadai biasanya datang ke sekolah dengan latar belakang berbagai pengalaman lebih cenderung menjadi pebelajar yang cepat. Sebaliknya, anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan dengan latar belakang orang tua tanpa pendidikan cenderung menjadi pebelajar yang lambat.
Lingkungan keluarga selalu memberikan pengaruh terhadap sikap anak dalam menghargai matematika. Penelitian menujukkan adanya korelasi positif antara sikap anak terhadap matemtika dengan sikap orang tua terhadap mata pelajaran ini.
i.         Latar Belakang Budaya dan Etnis
Anak-anak juga berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis. Motivasi untuk belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, layaknya anak-anak tertarik dan menilai pencapaiannya dalam suatu pendidikan.

D.    Faktor penyebab perbedaan individu
Perbedaan yang dimiliki antar satu individu dan individu yang lain sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor bawaan dan juga faktor lingkungan. Dibawah ini penjelasan singkat pengaruh dari kedua faktor tersebut dalam membentuk karakteristik seorang individu.
1.      Faktor Bawaan
Faktor bawaan merupakan faktor-faktor biologis yang dimiliki oleh seorang individ yang diturunkan melalui pewarisan genetik dari orangtua. Setiap gen membawa potensi ciri bawaan fisik dan mental yang berbeda pada tiap individu sesuai dengan gen yang didapat dari kedua orangtua.Meskipun rata-rata kita memiliki 50% gen yang sama dengan saudara kita, kumpulan gen kita tetap khas kecuali kita adalah kembar identik. Perbedaan gen ini merupakan suatu alasan mengapa kita berbeda dengan orang lain, baik secara fidik, psikologis maupun perilaku bahkan dengan saudara kita sendiri. Selebihnya dipengaruhi oleh lingkungan, karena kita tak pernah berada dilingkungan yang sama persis (Zimbardo & Gerig, 1999).
2.      Faktor Lingkungan
Lingkungan merujuk pada segala sesuatu yang berada di luar diri seorang individu. Faktor lingkungan ini meliputi banyak hal, mulai dari status sosial ekonomi orangtua, pola gizi, pola asuh, budaya, dan lain sebagainya.
Faktor lingkungan ini juga terbagi kedalam dua bagian yaitu.
1)      Faktor lingkungan statis yang meliputi pada wilayah tempat tinggal seseorang yang menentukan karakteristiknya seperti orang pedesaan, orang pesisir pantai,keadaan tempat dan alam lebih banyak bersifat statis sedangkan lingkungan sosial bersifat dinamis. Lingkungan statis membawa pengaruh  pada individu yang berbeda di lingkungan tersebut.
2)      Faktor lingkungan dinamis, faktor ini merupakan faktor sosial yang akan terus berkembang seiring waktu, dan mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis seorang individu. Seperti status sosial, budaya yang berkembang.Hal-hal semacam itu akan membuat perbedaan sifat di antara mereka.[9]
3.  Pengaruh Faktor Campuran
Dari uraian di atas, baik uraian pertama maupun uraian kedua (pengaruh faktor lingkungan) dan pendidikan ternyata bahwa baik keturunan maupun faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap individu yang bersangkutan.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Manusia atau individu adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, dan oknum. Perbedaan individual secara umum adalah hal-hal yang berkaitan dengan “psikologi pribadi” yang menjelaskan perbedaan psikologis antara orang-orang serta berbagai persamaannya. Sumber perbedaan individu disebabkan faktor bawaan dan faktor lingkungan. Terdapat beberapa macam bidang perbedaan individu yaitu perbedaan kognitif, perbedaan kecakapan berbahasa, perbedaan kecakapan motorik, perbedaan latar belakang, perbedaan bakat, perbedaan kesiapan belajar, perbedaan jenis kelamin dan gender, perbedaan kepribadian, dan perbedaan gaya belajar. Perbedaan individual disebabkan oleh dua faktor, ialah faktor keturunan atau bawaan kelahiran, dan faktor pengaruh lingkungan. Kedua faktor ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa/peserta didik. Mungkin salah satu factor ada yang lebih dominan, namun tetap kedua faktor tersebut masing-masing berpengaruh, dan pada gilirannya ternyata tidak ada dua individu yang sama
Setelah guru menemukan perbedaan-perbedaan dari setiap individu, maka langkah berikutnya adalah melakukan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran yang disesuaikan dengan perbedaan tersebut agar setiap individu mampu berkembang sesuai dengan kemampuan dan kecepatan yang dimiliki oleh masing-masing individu siswa. Mengajar siswa dengan kemampuan belajar cepat akan berbeda dengan mengajar siswa dengan kemampuan belajar kurang/lambat. Kemampuan yang berbeda dari setiap individu memerlukan pelayanan tersendiri bagi guru dalam upaya penyesuaian program pengajaran yang akan dibuat dan dilaksanakan.

B.Saran
Demikianlah makalah ini disusun dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. mohon maaf  bila ada ketidak sempurnaan di dalamnya. kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan guna menyempurnakan dalam penyusunan makalah selanjutnya. Atas kritik dan saran dari pembaca, terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Dalyono. M. 2007. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta.
Hartono S., 1999. Perkembangan Peserta Didik, Rineka Cipta,  Jakarta
Makmun.S.A. 2003. Psikologi Pendidikan. Rosda Karya Remaja. Bandung
Nawawi, Hadori. 2000. Intereksi Sosial. Jakarta : Gunung Agung.
Suryabrata, S. 2010.Psikologi Pendidikan. Raja  Grafindo Persada. Jakarta.
Sunarto dan B.Agung Hartono .2008 .Perkembangan Peserta Didik .Jakarta   
   : PT. Rineka Cipta . 
            behaviorurldefaultvmlo_3670.html



[1] M.Dalyono. Psikologi Pendidikan. (Jakarta :Rineka Cipta Jakarta.2007)hlm.32
[2] S.A.Makmun. Psikologi Pendidikan.(Bandung: Rosda Karya Remaja.2003).hlm.14
[3] Ibid....,hlm.15
[4] Hartono S. Perkembangan Peserta Didik, (jakarta :Rineka Cipta.1999).hlm.55
[5] Ibid..,hlm.56
[6] S.A.Makmun..Opcit.hlm.17
[7]S. Suryabrata. Psikologi Pendidikan. (Jakarta:Raja Grafindo Persada).2010.hlm.17
[8] B.Agung Hartono & Sunarto.Perkembangan Peserta Didik .(Jakarta :PT. Rineka Cipta .2008).hlm.18
[9] Hadori.Nawawi. Intereksi Sosial. (Jakarta : Gunung Agung.2000).hlm.43

Kamis, 13 Oktober 2016

hakikat filsafat islam dan hubungannya dengan filsafat yunani

Makalah
Hakikat Filsafat Islam serta Kegunaannya dan Hubungan
dengan Filsafat Yunani
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Islam

Dosen Pengampu : Sumar.M.Pd.I
 
Disusun Oleh Kelompok 1 :
Nama :   Vivin Anggreini  (1511166)
   Sri Wahyuni        (1511154)
   Uun Hidayani      (1511163)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
TAHUN 2016


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah SWT. Yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Dengan ini Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah filsafat islam yang telah mengembankan tugas ini kepada kami sebagai bahan pembelajara dan membantu dalam proses perkuliahan khususnya pada mata Kuliah filsafat islam.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepanya dapat lebih baik.
Walhasil, tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sempurna. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang.

Akhir kata kami  ucapkan terimakasih banyak. semoga tugas ini bermanfaat bagi kita semua.

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini cakupan Filsafat Islam itu diperluas kepada segala aspek ilmu-ilmu yang terdapat dalam khasanah pemikiran keislaman, yang meliputi bukan saja diperbincangkan oleh para filusuf dalam wilayah kekuasaan Islam tentang beberapa hal, tetapi lebih luas. Seperti yang dikemukakan oleh Muhammad ’Athif al-’Iraqy, filsafat Islam secara umum ialah meliputi di dalamnya ilmu kalam, ilmu ushul fiqih, ilmu tasawuf dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh ahli pikir Islam. Sedangkan pengertiannya secara khusus, ialah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran yang dikemukakan oleh para filusuf Islam. Dari kenyataan yang ada, menunjukkan hubungan filsafat Islam ada semacam pertautan, dan saling mengisi, antara filsafat Islam di satu pihak dengan ilmu keislaman lainnya. Bahkan masih ada semacam paradigma hubungan dengan filsafat Yunani, kendati secara prinsipil jauh berbeda karena menyangkut masalah aspek ke-Ilahi-an. Dalam makalah ini akan dijelaskan sejauh mana hubungan antara filsafat Islam dengan filsafat Yunani. Sebagai gambaran meluas atas hasil pemikiran mendalam para pakar dan ahli filsafat dalam memahami dan membaca kontes ke-alam-an yang ada (sebagai sebuah reliatas hidup dari Sang Pencipta).
B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Filsafat Islam ?
2.      Apa saja Objek kajian dalam Filsafat Islam ?
3.      Apa saja  Manfaat mempelajari Filsafat islam ?
4.      Bagaimana Hubungan Filsafat islam dan Filsafat Yunani ?
C.Tujuan
1.      Untuk Mengetahui hakikat Filsafat Islam
2.      Untuk Mengetahui Apa saja Objek Kajian Filsafat islam
3.      Untuk Mengetahui Tujuan manfaat mempelajari Filsafat islam
4.      Untuk Mengetahui Hubungan filsafat islam dan Filsafat Yunani
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Filsafat Islam
Filsafat Islam  terdiri dari dua kata yaitu Filsafat dan Islam. Filsafat berasal dari kata Yunani, yaitu Philosophia. Kata berangkai dari kata philein yang berarti mencintai, dan sophia berarti kebijaksanaan, philosophia  yaitu berarti cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom) atau dalam bahasa arab disebut muhibbun al hikmah.[1] Filsafat diartikan ilmu-pengetahuan yang paling umum dan luas.Tetapi filsafat itu tidak hanya berarti mencari kebenaran, tapi juga berfikir secara benar. Filsafat juga boleh diartikan, menerangkan segala sesuatu dalam arti mencari fakta-fakta kebenaran yang merupakan hakikat daripada sesuatu itu. adapun orang yang berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filosof” artinya pecinta kebijaksanaan.
Sedangkan kata Islam.secara semantik berasal dari akar kata Salima artinya menyerah, tunduk, dan selamat. Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah dan dengan menyerahkan diri kepada-Nya,maka ia akan memperoleh keselamatan dan kedamaian.
Jadi dapat diambil kesimpulan Filsafat islam(Islamic Philosophy) pada hakikatnya adalah filsafat yang bercorak Islami. Filsafat Islam bukan filsafat tentang Islam, bukan the philosophy of Islam. Filsafat islam berarti berpikir yang bebas,radikal dan tetap berada pada taraf makna yang mempunyai sifat,corak dan karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian hati. Berfikir bebas artinya tidak ada yang menghalang pikiran bekerja, sepanjang seseorang itu dalam keadaan sehat.
Sedangkan Filsafat Islam pada hakikatnya adalah Filsafat Kenabian Muhammad. Filsafat Kenabian ini lahir dalam periode filsafat Islam, dan karenanya tidak ditemukan dalam filsafat Yunani karna secara historis, Islam lahir dimulai dari risalah kenabian Nabi Muhammad saw, di Makkah, pada 571 M dan merupakan produk dari dialektika sejarah kemanusiaan untuk memberikan jalan kepada manusia merancang hari depan kehidupannya yang lebih manusiawi.[2]
Nabi Muhammad saw, adalah seorang Rasul yang dipilih untuk menerima kitab suci. Apa yang disampaikan oleh Rasul adalah semata-mata wahyu. dari sisi hikmah, ia adalah seorang filosof yang dapat menjelaskan secara akurat dan menyeluruh tentang wahyu yang diterimanya, dengan pemahaman mendalam yang dimilikinya.
B. Objek Kajian Filsafat Islam
            Objek kajian dalam filsafat islam terbagi menjadi dua objek yaitu objek materi dan objek formal filsafat.
1.      Objek Materi
Yang dimaksud objek materi adalah hal atau bahan yang akan diselidiki yang menjadi sasaran penyelidik,objek materi dalam filsafat islam ini ialah menyelidiki semua yang ada yaitu menelaah tentang hakikat Tuhan, hakikat Alam dan hakikat Manusia.
2.      Objek Formal
Objek formal dalam filsafat islam ialah usaha mencari keterangan secara radikal tentang objek materi filsafat. karna filsafat islam membahas hakikat semua yang ada sejak dari tahapan ontologis,epistimologis ,aksiologis, estetika, etika , logika, metafisika dan bidang keilmuan lainnya.
Dalam kajian keilmuan Islam, posisi filsafat Islam adalah landasan adanya integrasi berbagai disiplin dan pendekatan yang beragam, yang menghubungkan antara satu ilmu ke ilmu yang lain, karena dalam bangunan epistemologi Islam , filsafat Islam dengan dengan metode transendentalnya dapat menjadi dasarnya. Sebagai contoh, fikih pada hakikatnya adalah pemahaman, yang dasarnya adalah filsafat, yang kemudian juga dikembangkan dalam apa yang disebut ushul fiqh. Tanpa filsafat, fikih akan kehilangan semangat untuk perubahan, dan fikih dapat menjadi beku.[3] Menurut Prof. Dr. Musa Asy’arie Kajian filsafat Islam terhadap objeknya (objek material) dari waktu ke watu, mungkin, tidak berubah tetapi corak dan sifat serta dimensi yang menjadi tekanan atau fokus kajiannya (objek formal) harus berubah, serta konteks kehidupan manuisa dan semangat baru yang selalu muncul dalam setiap perkembangan zaman.[4]

C.Tujuan dan Kegunaan mempelajari Filsafat Islam
Dalam mempelajari filsafat Islam ada tujuan dan manfaat tersendiri bagi yang mempelajarinya. Menurut Narold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Filsafat adalah kreatif, menerapkan nilai, menerapkan tujuan, menentukan arah, dan menentukan pada jalan baru. Filsafat tidak ada artinya apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Mempelajari filsafat Islam sekurang-kurangnya ada lima manfaat, yaitu
1.agar terlatih berpikir serius;
2.agar mampu memahami filsafat secara menyeluruh;
3.agar menjadi filsuf walaupun dalam bidang tertentu;
4.agar sungguh-sungguh dalam belajar mendalami suatu ilmu;
5.agar menjadi warga negara yang baik, patuh, dan produktif.
Jadi mempelajari filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom)[5].
S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya : filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) inilah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam atau pun kebenaran[6].
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keadilan).
D.Hubungan antara Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani
Kontak Pertama Kaum Muslimin dengan Filsafat Yunani dimulai saat Penaklukan Alexander dan Perkembangan Pemikiran Yunani di Timur Tengah yang tidak dapat dilepaskan dari penaklukkan yang dilakukan Alexander yang Agung terhadap kawasan tersebut. Kedatangannya ke daerah tersebut tidak untuk menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, tetapi sebaliknya ia berusaha menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Sungguhpun usaha itu tidak berhasil, namun kebudayaan dan peradaban Yunani meninggalkan bekas di daerah-daerah ini. Bahasa administrasi yang dipakai disana ialah bahasa Yunani. Di Mesir dan Siria bahasa ini tetap dipakai sesudah masuknya Islam ke dalam kedua daerah itu, dan baru ditukar dengan bahasa Arab pada abad VII Masehi oleh Khalifah Bani Umayyah A. Malik Ibn Marwan (685-705)[7].
Alexandria merupakan kota  yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani yang berfungsi sebagai salah satu pusat kegiatan intelektual yang penting dijaman akhir filsafat Yunani Kuno. Menurut keterangan yang diberikan oleh De Lacy O’leary, bahwa di kota ini terdapat bangunan musium yang dilengkapi dengan perpustakaan yang kemudian ia berkembang di zaman Philadelphia (285-247 SM) menjadi perpustakaan terbesar di dunia dalam bidang pemikiran Yunani.
Dilihat dari aspek sejarah, kelahiran ilmu Filsafat Islam sangat erat kaitannya dengan filsafat Yunani yang di mulai sejak zaman pemerintahan Harun Al Rasyid sebagai khalifah Abbasiyah pada tahun 786 M ,dari sini penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab mulai dilakukan.[8] Peranan penerjemahan dalam memasukkan pemikiran Yunani ke dalam Islam itu telah banyak disebut oleh para ahli sejarah. De Lacy O’eary misalnya, mengatakan bahwa orang-orang Islam menguasai filsafat Yunani adalah melalui kegiatan penerjemahan dan pensyarahan bahasa Yunani, dan kegiatan ini banyak mendapat bantuan dari orang-orang Suryani.
Melalui saluran ini sebagian besar ilmu pengetahuan Yunani seperti ilmu pengetahuan kealaman, matematika astronomi, geografi dan kedokteran, dapat dijumpai orang-orang Islam. Khususnya dalam bidang kedokteran, melalui kegiatan penerjemahan itu para cendikiawan Muslim dapat menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan filsafat, dan mereka berusaha menambahkan kedalamnya hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran mereka dalam lapangan filsafat.[9]
Dikemukakan juga di sini bahwa keadaan perkembangan filsafat Yunani, ketika dijumpai oleh kaum Muslimin tengah dalam keadaan mundur , bahkan hampir hancur, karena ditekan dan diabaikan oleh para penguasa saat itu. Khazanah ilmu pengetahuan Yunani menemukan penyelamatannya yang mampu membangkitkan kembali pokok-pokoknya yang lama dan mengungkapkan subtansi-subtansinya dengan uraian yang orisinil pada orang Islam, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Rusyd. Selain itu, kaum Muslimin juga berusaha mengkompromikan antara filsafat dan agama dengan cara yang adil, seimbang dan rasional. Lebih jauh lagi seringkali sumbangan sumbangan kaum Muslimin itu lebih mendalam dan lebih tinggi[10] .
Maka dapat disimpulkan bahwa pada masa khalifah Abbasiyah adalah awal mula diterjemahkannya naskah-naskah ilmu filsafat ke dalam bahasa Arab. Sehingga lahirlah sejumlah Filosof Muslim terkemuka dikalangan umat Islam yang dikenal dengan Filsafat Islam.adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam. Dunia Islam belahan timur yang berpusat di Bagdad, Irak lebih dahulu melahirkan filosof muslim daripada dunia Islam belahan barat yang berpusat di Cordoba, Spanyol. penaklukkan Alexander yang Agung di kawasan Timur Tengah ternyata membawa pengaruh terhadap perkembangan pemikiran Yunani di daerah yang ditaklukkannya itu. Perkembangan pemikiran Yunani tersebut terlihat dari munculnya  berbagai pusat atau lembaga pengkajian filsafat Yunani. Semua kota yang menjadi tempat perkembangan pemikiran Yunani ini kemudian dikuasai oleh Islam [11]

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
             Dari berbagai uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa filsafat Islam adalah suatu ilmu yang didalamnya terdapat ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu. Filsafat Islam adalah filsafat yang diterapkan berdasarkan pada hukum Islam. Ia  merupakan filsafat khusus dan objeknya tertentu, yaitu hukum Islam.. Filsafat Islam itu lahir karena dilatarbelakangi oleh adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam, yakni pada masa Khalifah Abbasiyah.
Filsafat Islam mempunyai orisinilitas dan otentisitas tersendiri yang berbeda dengan filsafat Yunani. Memang betul dalam beberapa hal filsafat Islam ada yang terpengaruh dari pemikiran Yunani dan peradaban lainnya, namun itu tidak menghilangkan ciri keislamannya, yaitu berupa pandangan hidup yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah.
            Jika megacu kepada al-Qur’an, jelas tidak benar jika Islam dituduh tidak mampu membuat kreasi dan mendatangkan hal baru di hadapan konsep-konsep filsafat Yunani. Sebab al-Qur’an telah banyak berbicara tentang Tuhan, manusia, alam semesta dan moralitas yang sama sekali berbeda dengan yang pernah difikirkan oleh bangsa Yunani. Sampai disini, dapat dinyatakan bahwa hubungan filsafat Islam dengan filsafat Yunani adalah hanyalah sebagai pengembang dan penerus sekaligus pelopor filsafat yang bercorak Islam yang disebarkan ke berbagai dunia Barat.   
B.Saran
Demikianlah makalah ini disusun dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. mohon maaf  bila ada ketidak sempurnaan di dalamnya. kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan guna menyempurnakan dalam penyusunan makalah selanjutnya. Atas kritik dan saran dari pembaca, terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Nasution Hasyimsyah.1999.Filsafat islam .Jakarta : Gaya Media Pratama

Asy’arie Musa.2002. Filsafat Islam.Yogyakarta : LESFI

Al Jauharie imam Hanafi , 2006. Filsafat Islam.Pekalongan : Stain Pekalongan Press
Nasution Harun.1978.Filsafat dan mistisme dalam islam.Jakarta :Bulan bintang.

Mustofa, A. 2004. Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia

Nata, Abuddin. 2001. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo    Persada

Madkour Ibrahim.1995.Aliran dan Teori filsafat Islam.Jakarta:Bumi Aksara


[1] Hasyimsyah Nasution,filsafat islam (Jakarta : Gaya Media Pratama.1999) hlm.2
[2] Prof. Dr. Musa Asy’arie, Filsafat Islam. (Yogyakarta : LESFI, 2002). Hal.4
[3] Dr.Ibrahim Madkour.Aliran dan Teori filsafat islam(Jakarta;Bumi Aksara.1995).hlm.12
[4] Ibid..,hlm.6                           
[5] Imam Hanafi Al Jauharie, M.Ag, Filsafat Islam, (Pekalongan : Stain Pekalongan Press.2006 ).hal 7-8
[6] Ibid.,,hlm.10
[7] Prof.Dr.Harun Nasution, Filsafat dan mistisme dalam islam,(Bulan bintang.Jakarta.1978),hlm 10
[8] Ibid..,hlm.11
[9] Mustofa, A. Filsafat Islam.( Bandung: Pustaka Setia.2004).hlm.13
[10] Prof.Dr.Harun Nasution,op.cit.,hlm.11
[11] Abuddin Nata. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf.(Jakarta: Raja Grafindo Persada 2011).hlm.51

Lets Tarbiyah sebelum menikah

Alhamdulillah masih dipertemukan dipenghujung bulan syawal yg katanya musim nikah..  Hehe..  Alhamdulillah dikabarkan ad beberapa teman yg ...