Makalah
Hakikat Filsafat Islam serta
Kegunaannya dan Hubungan
dengan Filsafat Yunani
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Sumar.M.Pd.I
Disusun Oleh Kelompok 1 :
Nama : Vivin
Anggreini (1511166)
Sri Wahyuni (1511154)
Uun
Hidayani (1511163)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH
ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah SWT. Yang
telah melimpahkan Rahmat dan Hidayat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Dengan ini Kami mengucapkan terima kasih kepada
dosen mata kuliah filsafat islam yang telah mengembankan tugas ini kepada kami
sebagai bahan pembelajara dan membantu dalam proses perkuliahan khususnya pada
mata Kuliah filsafat islam.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga dapat
memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepanya dapat lebih baik.
Walhasil, tak ada gading yang tak retak. Tak ada
manusia yang sempurna. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena
pengalaman yang kami miliki sangat kurang.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih banyak. semoga tugas ini bermanfaat
bagi kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini
cakupan Filsafat Islam itu diperluas kepada segala aspek ilmu-ilmu yang
terdapat dalam khasanah pemikiran keislaman, yang meliputi bukan saja
diperbincangkan oleh para filusuf dalam wilayah kekuasaan Islam tentang
beberapa hal, tetapi lebih luas. Seperti yang dikemukakan oleh Muhammad ’Athif
al-’Iraqy, filsafat Islam secara umum ialah meliputi di dalamnya ilmu kalam,
ilmu ushul fiqih, ilmu tasawuf dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan
oleh ahli pikir Islam. Sedangkan pengertiannya secara khusus, ialah pokok-pokok
atau dasar-dasar pemikiran yang dikemukakan oleh para filusuf Islam. Dari
kenyataan yang ada, menunjukkan hubungan filsafat Islam ada semacam pertautan,
dan saling mengisi, antara filsafat Islam di satu pihak dengan ilmu keislaman
lainnya. Bahkan masih ada semacam paradigma hubungan dengan filsafat Yunani,
kendati secara prinsipil jauh berbeda karena menyangkut masalah aspek
ke-Ilahi-an. Dalam makalah ini akan dijelaskan sejauh mana hubungan antara
filsafat Islam dengan filsafat Yunani. Sebagai gambaran meluas atas hasil
pemikiran mendalam para pakar dan ahli filsafat dalam memahami dan membaca
kontes ke-alam-an yang ada (sebagai sebuah reliatas hidup dari Sang Pencipta).
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan Filsafat Islam ?
2.
Apa saja Objek
kajian dalam Filsafat Islam ?
3.
Apa saja Manfaat mempelajari Filsafat islam ?
4.
Bagaimana Hubungan
Filsafat islam dan Filsafat Yunani ?
C.Tujuan
1.
Untuk Mengetahui
hakikat Filsafat Islam
2.
Untuk Mengetahui
Apa saja Objek Kajian Filsafat islam
3.
Untuk Mengetahui
Tujuan manfaat mempelajari Filsafat islam
4.
Untuk Mengetahui
Hubungan filsafat islam dan Filsafat Yunani
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.Pengertian
Filsafat Islam
Filsafat
Islam terdiri dari dua kata yaitu
Filsafat dan Islam. Filsafat berasal dari kata Yunani, yaitu Philosophia. Kata berangkai dari kata philein yang berarti mencintai, dan sophia berarti kebijaksanaan, philosophia yaitu berarti cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom) atau dalam bahasa arab
disebut muhibbun al hikmah.[1] Filsafat
diartikan ilmu-pengetahuan yang paling umum dan luas.Tetapi filsafat itu tidak
hanya berarti mencari kebenaran, tapi juga berfikir secara benar. Filsafat juga
boleh diartikan, menerangkan segala sesuatu dalam arti mencari fakta-fakta
kebenaran yang merupakan hakikat daripada sesuatu itu. adapun orang yang
berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filosof” artinya
pecinta kebijaksanaan.
Sedangkan
kata Islam.secara semantik berasal dari akar kata Salima artinya menyerah, tunduk, dan selamat. Islam artinya
menyerahkan diri kepada Allah dan dengan menyerahkan diri kepada-Nya,maka ia
akan memperoleh keselamatan dan kedamaian.
Jadi
dapat diambil kesimpulan Filsafat islam(Islamic
Philosophy) pada hakikatnya adalah filsafat yang bercorak Islami. Filsafat
Islam bukan filsafat tentang Islam, bukan the philosophy of Islam. Filsafat islam berarti berpikir yang
bebas,radikal dan tetap berada pada taraf makna yang mempunyai sifat,corak dan
karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian hati. Berfikir bebas artinya
tidak ada yang menghalang pikiran bekerja, sepanjang seseorang itu dalam
keadaan sehat.
Sedangkan
Filsafat Islam pada hakikatnya adalah Filsafat Kenabian Muhammad. Filsafat
Kenabian ini lahir dalam periode filsafat Islam, dan karenanya tidak ditemukan
dalam filsafat Yunani karna secara historis, Islam lahir dimulai dari risalah
kenabian Nabi Muhammad saw, di Makkah, pada 571 M dan merupakan produk dari
dialektika sejarah kemanusiaan untuk memberikan jalan kepada manusia merancang
hari depan kehidupannya yang lebih manusiawi.[2]
Nabi
Muhammad saw, adalah seorang Rasul yang dipilih untuk menerima kitab suci. Apa
yang disampaikan oleh Rasul adalah semata-mata wahyu. dari sisi hikmah, ia
adalah seorang filosof yang dapat menjelaskan secara akurat dan menyeluruh
tentang wahyu yang diterimanya, dengan pemahaman mendalam yang dimilikinya.
B. Objek Kajian
Filsafat Islam
Objek
kajian dalam filsafat islam terbagi menjadi dua objek yaitu objek materi dan
objek formal filsafat.
1.
Objek Materi
Yang dimaksud objek materi adalah hal atau bahan
yang akan diselidiki yang menjadi sasaran penyelidik,objek materi dalam
filsafat islam ini ialah menyelidiki semua yang ada yaitu menelaah tentang
hakikat Tuhan, hakikat Alam dan hakikat Manusia.
2.
Objek Formal
Objek formal dalam filsafat islam ialah usaha
mencari keterangan secara radikal tentang objek materi filsafat. karna filsafat
islam membahas hakikat semua yang ada sejak dari tahapan ontologis,epistimologis
,aksiologis, estetika, etika , logika, metafisika dan bidang keilmuan lainnya.
Dalam kajian keilmuan Islam, posisi
filsafat Islam adalah landasan adanya integrasi berbagai disiplin dan
pendekatan yang beragam, yang menghubungkan antara satu ilmu ke ilmu yang lain,
karena dalam bangunan epistemologi Islam , filsafat Islam dengan dengan metode
transendentalnya dapat menjadi dasarnya. Sebagai contoh, fikih pada hakikatnya
adalah pemahaman, yang dasarnya adalah filsafat, yang kemudian juga
dikembangkan dalam apa yang disebut ushul fiqh. Tanpa filsafat, fikih akan
kehilangan semangat untuk perubahan, dan fikih dapat menjadi beku.[3] Menurut
Prof. Dr. Musa Asy’arie Kajian filsafat Islam terhadap objeknya (objek
material) dari waktu ke watu, mungkin, tidak berubah tetapi corak dan sifat
serta dimensi yang menjadi tekanan atau fokus kajiannya (objek formal) harus
berubah, serta konteks kehidupan manuisa dan semangat baru yang selalu muncul
dalam setiap perkembangan zaman.[4]
C.Tujuan dan
Kegunaan mempelajari Filsafat Islam
Dalam
mempelajari filsafat Islam ada tujuan dan manfaat tersendiri bagi yang
mempelajarinya. Menurut Narold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha untuk
memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Filsafat adalah kreatif,
menerapkan nilai, menerapkan tujuan, menentukan arah, dan menentukan pada jalan
baru. Filsafat tidak ada artinya apabila tidak universal, baik dalam ruang
lingkupnya maupun dalam semangatnya. Mempelajari filsafat Islam
sekurang-kurangnya ada lima manfaat, yaitu
1.agar
terlatih berpikir serius;
2.agar
mampu memahami filsafat secara menyeluruh;
3.agar
menjadi filsuf walaupun dalam bidang tertentu;
4.agar
sungguh-sungguh dalam belajar mendalami suatu ilmu;
5.agar
menjadi warga negara yang baik, patuh, dan produktif.
Jadi mempelajari filsafat adalah suatu usaha untuk
memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah
kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan
komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan
kebijaksanaan (understanding and wisdom)[5].
S. Takdir Alisyahbana menulis dalam
bukunya : filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati,
sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran)
inilah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawan filsafat di antara
kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi
manusia, berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya,
senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab
terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam atau pun kebenaran[6].
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam
logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat
keadilan).
D.Hubungan
antara Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani
Kontak Pertama Kaum Muslimin dengan
Filsafat Yunani dimulai saat Penaklukan Alexander dan Perkembangan Pemikiran
Yunani di Timur Tengah yang tidak dapat dilepaskan dari penaklukkan yang
dilakukan Alexander yang Agung terhadap kawasan tersebut. Kedatangannya ke
daerah tersebut tidak untuk menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia,
tetapi sebaliknya ia berusaha menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia.
Sungguhpun usaha itu tidak berhasil, namun kebudayaan dan peradaban Yunani
meninggalkan bekas di daerah-daerah ini. Bahasa administrasi yang dipakai
disana ialah bahasa Yunani. Di Mesir dan Siria bahasa ini tetap dipakai sesudah
masuknya Islam ke dalam kedua daerah itu, dan baru ditukar dengan bahasa Arab
pada abad VII Masehi oleh Khalifah Bani Umayyah A. Malik Ibn Marwan (685-705)[7].
Alexandria merupakan kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan
filsafat Yunani yang berfungsi sebagai salah satu pusat kegiatan intelektual
yang penting dijaman akhir filsafat Yunani Kuno. Menurut keterangan yang
diberikan oleh De Lacy O’leary, bahwa di kota ini terdapat bangunan musium yang
dilengkapi dengan perpustakaan yang kemudian ia berkembang di zaman
Philadelphia (285-247 SM) menjadi perpustakaan terbesar di dunia dalam bidang
pemikiran Yunani.
Dilihat dari aspek sejarah, kelahiran
ilmu Filsafat Islam sangat erat kaitannya dengan filsafat Yunani yang di mulai
sejak zaman pemerintahan Harun Al Rasyid sebagai khalifah Abbasiyah pada tahun
786 M ,dari sini penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa
Arab mulai dilakukan.[8] Peranan
penerjemahan dalam memasukkan pemikiran Yunani ke dalam Islam itu telah banyak
disebut oleh para ahli sejarah. De Lacy O’eary misalnya, mengatakan bahwa
orang-orang Islam menguasai filsafat Yunani adalah melalui kegiatan
penerjemahan dan pensyarahan bahasa Yunani, dan kegiatan ini banyak mendapat
bantuan dari orang-orang Suryani.
Melalui saluran ini sebagian besar ilmu
pengetahuan Yunani seperti ilmu pengetahuan kealaman, matematika astronomi,
geografi dan kedokteran, dapat dijumpai orang-orang Islam. Khususnya dalam
bidang kedokteran, melalui kegiatan penerjemahan itu para cendikiawan Muslim
dapat menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan filsafat, dan mereka
berusaha menambahkan kedalamnya hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan
sendiri dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran mereka dalam
lapangan filsafat.[9]
Dikemukakan juga di sini bahwa keadaan
perkembangan filsafat Yunani, ketika dijumpai oleh kaum Muslimin tengah dalam
keadaan mundur , bahkan hampir hancur, karena ditekan dan diabaikan oleh para
penguasa saat itu. Khazanah ilmu pengetahuan Yunani menemukan penyelamatannya
yang mampu membangkitkan kembali pokok-pokoknya yang lama dan mengungkapkan
subtansi-subtansinya dengan uraian yang orisinil pada orang Islam, seperti yang
dilakukan oleh Ibnu Rusyd. Selain itu, kaum Muslimin juga berusaha
mengkompromikan antara filsafat dan agama dengan cara yang adil, seimbang dan
rasional. Lebih jauh lagi seringkali sumbangan sumbangan kaum Muslimin itu
lebih mendalam dan lebih tinggi[10] .
Maka dapat disimpulkan bahwa pada masa khalifah
Abbasiyah adalah awal mula diterjemahkannya naskah-naskah ilmu filsafat ke
dalam bahasa Arab. Sehingga lahirlah sejumlah Filosof Muslim terkemuka
dikalangan umat Islam yang dikenal dengan Filsafat Islam.adanya usaha
penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan
sejak masa klasik Islam. Dunia Islam belahan timur yang berpusat di Bagdad,
Irak lebih dahulu melahirkan filosof muslim daripada dunia Islam belahan barat
yang berpusat di Cordoba, Spanyol. penaklukkan
Alexander yang Agung di kawasan Timur Tengah ternyata membawa pengaruh terhadap
perkembangan pemikiran Yunani di daerah yang ditaklukkannya itu. Perkembangan
pemikiran Yunani tersebut terlihat dari munculnya berbagai pusat atau lembaga pengkajian
filsafat Yunani. Semua kota yang menjadi tempat perkembangan pemikiran Yunani
ini kemudian dikuasai oleh Islam [11]
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari berbagai uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa
filsafat Islam adalah suatu ilmu yang didalamnya terdapat ajaran Islam dalam
membahas hakikat kebenaran segala sesuatu. Filsafat Islam adalah filsafat yang
diterapkan berdasarkan pada hukum Islam. Ia
merupakan filsafat khusus dan objeknya tertentu, yaitu hukum Islam..
Filsafat Islam itu lahir karena dilatarbelakangi oleh adanya usaha penerjemahan
naskah-naskah ilmu filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan
sejak masa klasik Islam, yakni pada masa Khalifah Abbasiyah.
Filsafat Islam mempunyai orisinilitas
dan otentisitas tersendiri yang berbeda dengan filsafat Yunani. Memang betul
dalam beberapa hal filsafat Islam ada yang terpengaruh dari pemikiran Yunani
dan peradaban lainnya, namun itu tidak menghilangkan ciri keislamannya, yaitu
berupa pandangan hidup yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah.
Jika megacu kepada al-Qur’an, jelas tidak benar jika Islam dituduh tidak
mampu membuat kreasi dan mendatangkan hal baru di hadapan konsep-konsep
filsafat Yunani. Sebab al-Qur’an telah banyak berbicara tentang Tuhan, manusia,
alam semesta dan moralitas yang sama sekali berbeda dengan yang pernah
difikirkan oleh bangsa Yunani. Sampai disini, dapat dinyatakan bahwa hubungan
filsafat Islam dengan filsafat Yunani adalah hanyalah sebagai pengembang dan
penerus sekaligus pelopor filsafat yang bercorak Islam yang disebarkan ke
berbagai dunia Barat.
B.Saran
Demikianlah makalah ini disusun dengan
sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat
kesalahan dan kekurangan. mohon maaf
bila ada ketidak sempurnaan di dalamnya. kritik dan saran yang bersifat
membangun kami harapkan guna menyempurnakan dalam penyusunan makalah
selanjutnya. Atas kritik dan saran dari pembaca, terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution
Hasyimsyah.1999.Filsafat islam .Jakarta
: Gaya Media Pratama
Asy’arie
Musa.2002. Filsafat Islam.Yogyakarta
: LESFI
Al
Jauharie imam Hanafi , 2006. Filsafat
Islam.Pekalongan : Stain Pekalongan Press
Nasution
Harun.1978.Filsafat dan mistisme dalam
islam.Jakarta :Bulan bintang.
Mustofa,
A. 2004. Filsafat Islam. Bandung:
Pustaka Setia
Nata,
Abuddin. 2001. Ilmu Kalam, Filsafat dan
Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Madkour
Ibrahim.1995.Aliran dan Teori filsafat
Islam.Jakarta:Bumi Aksara
[1] Hasyimsyah Nasution,filsafat islam (Jakarta : Gaya Media
Pratama.1999) hlm.2
[3] Dr.Ibrahim Madkour.Aliran dan Teori filsafat islam(Jakarta;Bumi
Aksara.1995).hlm.12
[5] Imam Hanafi Al Jauharie, M.Ag, Filsafat Islam, (Pekalongan : Stain
Pekalongan Press.2006 ).hal 7-8
[7] Prof.Dr.Harun
Nasution, Filsafat dan mistisme dalam
islam,(Bulan bintang.Jakarta.1978),hlm 10
[11] Abuddin Nata. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf.(Jakarta:
Raja Grafindo Persada 2011).hlm.51

Tidak ada komentar:
Posting Komentar