Rabu, 04 Juli 2018

Jurnal Pendidikan Islam


PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN
DALAM PRESPEKTIF NURCHOLIS  MADJID
vivinanggreini@gmail.com
Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam
IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Abstrak
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, sekaligus pusat penyebaran agama sampai sekarang masih tetap bertahan, bahkan mengalami perkembangan seiring derasnya arus globalisasi pesantren mencoba gagasan modernisasi demi menjawab tantangan kebutuhan transformasi sosial. Akan tetapi banyak kalangan mengkhawatirkan tentang gagasan modernisasi pesantren yang berorientasi kekinian dapat mempengaruhi idenitas dan fungsi pokok pesantren. untuk menghadapi setiap tuntutan perkembangan baru sangat diperlukan pembaruan sistem pendidikan untuk mengimbangi tuntutan-tuntutan tersebut. Sosok Nurcholish Madjid, seorang tokoh diantara pembaharu Indonesia yang tak henti-hentinya mencoba membuka wacana-wacana baru dalam membantu bangsa serta banyak memberi kontribusi terhadap berbagai perkembangan zaman. Tokoh inilah yang pada perkembangan selanjutnya diharapkan mampu melakukan pebaharuan dalam sistem pendidikan pesantren sesuai dengan realitas dan kebutuhan zaman modern dengan tetap mempertahankan budaya dan tradisional pesantren sebagai ciri khas Islam indonesia.
Kata Kunci : Pembaharuan,sistem,Pondok Pesantren

PENDAHULUAN

Pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tertua di Indonesia yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (komplek) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang kyai dengan ciri-ciri yang khas yang bersifat kharismatik .Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren terus berusaha agar tetap eksis dalam melaksanakan perannya sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Dalam hubungannya dengan dunia pendidikan, maka pesantren dihadapkan pada berbagai problem. Di satu sisi pesantren harus mampu mempertahankan nilai-nilai yang positif sebagai ciri khas kepesantrenannya, di sisi lain pesantren harus menerima hal-hal baru (pembaharuan) yang merupakan kebutuhan masyarakat dalam kehidupan modern. Sehubungan dengan hal itu, perkembangan sistem pendidikan dan pengajaran pesantren serta pola kepemimpinan Kyai, dan proses belajar mengajar perlu ditinjau ulang. dalam pendidikan pesantren dikenal dua model sistem pendidikan, yakni sistem pendidikan pesantren modern dan sistem pendidikan pesantren tradisional.[1]
Dalam pemikiran Nurcholish Madjid peran pesantren akan semakin lemah, tidak diakui atau bahkan lenyap apabila sistem pendidikannya hanya mengedepankan aspek moral saja, tidak mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus. Pondok pesantren dituntut untuk memperbaharui sistem pendidikannya, dengan secara sadar merumuskan visi dan tujuan pendidikan untuk lebih maju dan maju merespon perkembangan zaman ia menegaskan bahwa potensi yang dimiliki oleh pesantren itu sangat besar dan bisa menjadi salah satu alternatif yang baik dalam pendidikan Islam. Akan tetapi tidak semudah itu  saja potensi itu terwujud, harus ada beberapa perubahan signifikan dalam sistem pendidikan pesantren, sehingga potensi pesantren bisa diwujudkan secara maksimal.


B. PEMBAHASAN
1. Sistem Pendidikan Pesantren
Sistem adalah seperangkat peraturan, prinsip, tata nilai dan sebagainya yang digolongkan atau di susun dalam bentuk yang teratur untuk mewujudkan rencana logis yang berhubungan dengan berbagai bagian dan membentuk kesatuan.[2] Sistem pendidikan adalah totalitas interaksi dari seperangkat unsur unsur pendidikan yang bekerja sama secara terpadu, dan melengkapi satu sama lain menuju tercapainya tujuan pendidikan yang telah menjadi cita-cita bersama para pelakunya. Kerjasama tersebut didasari, dijiwai, digerakkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai yang luhur. Unsur-unsurnya meliputi unsur organik (para pelaku) dan unsur anorganik (dana, sarana, dan alat-alat pendidikan lainnya). Jadi, yang dimaksud dengan sistem pendidikan adalah keseluruhan dari unsur-unsur atau komponen-komponen pendidikan yang berkaitan dan berhubungan satu sama lain serta saling mempengaruhi dalam satu kesatuan, yakni unsur manusia sebagai subjek pendidikan dan unsur non manusia seperti: sarana prasarana, tujuan pendidikan, materi, metode, media, dan evaluasi pendidikan.
2. Definisi Pondok Pesantren
Pondok pesantren adalah tempat atau suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang merupakan wujud proses perkembangan sistem pendidikan yang bertujuan untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, atau disebut tafaquh fiddin, dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat.[3]
Kata pesantren sering dikaitkan dengan kata pondok sebagai kata majemuk (pondok pesantren) yang berarti asrama para santri . kata pesntren juga berasal dari bahasa Arab (funduq) yang berati asrama atau hotel. Pengajaran agama yang umumnya dilaksanakan dipesantren bersifat non klasikal, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu Agama Islam kepada santrinya berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahsa Arab dan para santri sebagai murid yang biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.[4]
 Dari paparan di atas, maka dapat penulis katakan bahwa sistem pendidikan pesantren merupakan keseluruhan komponen-komponen pendidikan pesantren yang meliputi; kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik termasuk materi dan metodenya, yang saling berkaitan serta berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan pendidikan pesantren.
3.Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid yang akrab disapa dengan panggilan Cak Nur adalah pemikir Islam yang mempunyai pengaruh kuat dan luas dalam sejarah intelektualisme Islam Indonesia. Pemikirannya membawa dampak yang amat luas dalam kehidupan keagamaan Islam, dan lebih dari itu ia bahkan menjadi rujukan serta kiblat kaum intelektual Muslim Indonesia. Salah satu bukti betapa kuatnya pengaruh Cak Nur, ialah ia berhasil mengembangkan wacana intelektual dikalangan masyarakat Islam secara modern, terbuka, egaliter, dan demokratis mengenai sistem pendidikan dalam pesantren salaf yang meliputi; Kyai, santri, masjid, dan pengajaran kitab-kitab klasik: materi dan metode serta keterkaitan antara unsur-unsur tersebut. 
4. Unsur-Unsur Pendidikan pesantren
Dalam setiap lembaga pasti mempunyai unsur-unsur, karena hal itu merupakan faktor yang sangat signifikan dan mutlak diperlukan bagi perjalanan setiap lembaga termasuk juga pondok pesantren. unsur-unsur pokok pondok pesantren tersebut sebagaimana berikut:
a.       Pondok
merupakan bangunan berupa  asrama atau kamar para santri yang digunakan sebagai tempat tinggal mereka bersama dan belajar di bawah bimbingan ketua  kamar, asrama atau pemondokan merupakan tempat belajar para santri dibawah bimbingan kyai, dimana dalam lingkungan kompleks pesantren kiyai beserta keluarganya tinggal. Mereka memanfaatkannya dalam rangka bekerja sama dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.[5]
b.      Masjid
Dalam hal ini merupakan tempat atau sarana yang dijadikan pusat kegiatan ibadah dan proses pendidikan seperti shalat berjamaah khotbah, kajian kitab kuning, pusat pertemuan dan musyawarah serta pusat penggemblengan mental santri.
c.       Santri
Santri merupakan unsur yang penting sekali dalam perkembangan sebuah pesantren. Karena idealnya, langkah pertama dalam tahap-tahap membangun pesantren adalah harus ada murid yang datang untuk belajar dari seorang alim (kyai). Jika murid tersebut sudah menetap di rumah seorang alim, baru seorang alim itu bisa disebut kyai dan mulai membangun fasilitas yang lebih lengkap untuk pondoknya.[6]
Santri terdiri dari dua kelompok yaitu santri mukim dan santri kalong, santri mukim adalah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren. Sedangkan santri kalong adalah santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pondok pesantren.[7]
d.      Syeikh/Kyai
Gelar Syeikh atau Kyai diberikan oleh masyarakat kepada orang yang mepunyai ilmu  pengetahuan yang mendalam tentang agama Islam. Kyai memiliki peran yang paling esensial dalam pendirian, pertumbuhan, dan perkembangan sebuah pesantren, sebagai pimpinan pesantren, keberhasilan pesantren banyak bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, kharisma, wibawa, serta keterampilan kyai. Dalam konteks ini, pribadi kyai sangat menentukan kejayaan dan perkembangan kehidupan pesantren, sebab ia adalah tokoh sentral dalam mengelola pesantren..
e.       pengajian kitab klasik
yaitu berupa materi pembelajaran atau referensi dari teks kitab klasik yang berbahasa arab karangan ulama terdahulu meliputi ilmu bahasa, ilmu tafsir, hadits, tauhid, fiqih tasawuf dan lain-lain.
f.       Karakteristik Pondok Pesantren
Karakteristik adalah ciri khas, striotipe atau trad mark yang dimiliki lembaga pendidikan pesantren dan tidak dimiliki lembaga pendidikan lainnya. Pesantren dapat bertahan dan berkembang bukan hanya karena kemampuannya untuk melakukan adjustment (penyesuaian diri) dan readjustment (penyesuaian kembali), akan tetapi juga karena kekuatan karakternya yang eksistensialis. Kenyataan ini dapat dilihat tidak adanya dari latar belakang pendirian pesantren pada suatu lingkungan tertentu, tetapi juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren melalui penciptaan hubungan yang simbiosis mutualisme dengan masyarakat sekitarnya. Setidaknya ada 3 karakteristik yang dikenali sebagai basis utama kultur pesantren.            
Pertama, pesantren sebagai lembaga tradisional. Tradisionalisme dalam konteks pesantren harus dipahami sebagai upaya mencontoh teladan yang dilakukan para ulama salaf yang masih murni dalam menjalankan ajaran Islam agar terhindar dari bid’ah, takhayul dll.
Kedua, Pesantren sebagai pertahanan budaya (Culture Resistance). Mempertahankan budaya dengan ciri tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad.
Ketiga, pesantren sebagai pendidikan keagamaan. Pendidikan pesantren didasari, digerakkan dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam.[8]
5. Undang-undang Yang Mengatur Sistem Pendidikan Pesantren
Bagi Kementrian Agama, wajib belajar sebenarnya sudah dimulai sejak Tahun 1958/1959, khususnya ketika kementrian Agama merintis wajib belajar melalui madrasah wajib belajar yang diorientasikan pada pencapaian keselasan antara kongnitif,afektif dan psikomotorik (otal,hati dan tangan).
Selain peraturan tersebut, implementasi kebijakan kemudian dilanjutkan pencanangan dimulainya program wajib belajar pendidikan dasar di pondok pesantren salafiyah pada tanggal 10 juli 2001 mengacu pada: (1) kesepakatan bersama antara Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama RI Nomor: 1/U/KB/2000 dan Nomor : MA/86/2000 Tentang Pondok Pesantren Salafiyah Sebagai Pola Wajib Belajar endidikan Dasar Sembilan Tahun Tertanggal 30 Maret 2000, dan (2) Keputusan Bersama Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depertemen Agama RI Dan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Depertemen Pendidikan Nasional Nomor: E/83/2000 dan Nomor: 166/C/KEP/DS-2000 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pondok Pesantren Salafiyah Sebagai Pola Wajib Belajar Pendidikan Dasar, Tertanggal 6 Juni 2000.[9]

6. Sistem Pengajaran Pendidikan Pesantren
Lembaga pendidikan, Pondok Pesantren walaupun dikategorikan sebagai lembaga pendidikan tradisional mempunyai sistem pengajaran tersendiri, dan itu menjadi ciri khas sistem pengajaran/metodik-didaktik yang lain dari sistem-sistem pengajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan formal. Berikut ini adalah penerapan metode secara garis besar yang dimaksud dalam sistem pembelajaran santri :
1)      Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya asisten kyai. Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya.  Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar, atau bimbingan bila diperlukan. dengan sistem pengajaran seperti ini memungkinkan hubungan santri dengan guru akan lebih dekat. Akan tetapi, dalam metode ini, dialog antara guru dengan murid belum atau tidak terjadi. Maka metode ini menyimpan beberapa kelemahan, di antaranya adalah ketika tidak terjadi dialog antara murid dan guru. Murid menjadi pasif. Kegiatan belajar belajar mengajar terpusat pada guru. Akhirnya, daya kreativitas dan aktivitas murid menjadi lemah.[10]
2)      Wetonan atau Bandongan Weton / bandongan
istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu,.pengajian weton tidaka merupakan pengajian rutin harian,tetai dilaksanakan pada sat-saat tertentu. Metode ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikut pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya.
3)      Halaqoh Halaqah
      sistem ini merupakan kelompok kelas dari sistem bandongan. Halaqah yang arti bahasanya lingkaran murid, atau sekelompok siswa yang belajar di bawah bimbingan seorang guru atau belajar bersama dalam satu tempat. Halaqah ini juga merupakan diskusi untuk memahami isi kitab, bukan untuk mempertanyakan kemungkinan benar salahnya apa-apa yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab.
      Pada sebagian pondok pesantren dewasa ini, sistem penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran semakin lama semakin berubah karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan di tanah air serta tuntutan dari masyarakat di lingkungan pondok itu sendiri. Terdapat beberapa hal yang tengah dihadapi pesantren dalam melakukan pengembangannya yaitu Pertama, image pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang tradisional, tidak modern, informal dan bahkan teropinikan sebagai lembaga yang melahirkan terorisme, telah mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk meninggalkan dunia pesantren. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab sesegera mungkin oleh dunia pesantren dewasa ini. Kedua, sarana dan prasarana penunjang yang terlihat masih kurang memadai  baik dari segi infrastruktur. bangunan  harus segera dibenahi.
7. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren dalam Prespektif Nurcholis  Madjid
Menurut Nurcholish Madjid sistem Pendidikan Islam yang ideal adalah sistem pendidikan yang dapat membentuk pola pikir liberal yaitu intelektualisme yang dapat mengantarkan manusia kepada dua tendensi yang sangat erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan yang berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Memiliki tujuan dakwah yaitu menyebarkan moral keagamaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain konsep pendidikan yang diarahkan dia adalah konsep yang memiliki peran tradisional dan modern[11]
Pemikiran Cak Nur memang tidak akan pernah bisa terlepas dari keislaman. Begitu pula dengan pemkirannya terkait dengan pendidikan. Cak Nur
lebih banyak menyorot pesantren yang memang masih dirasa perlu memberikan perhatian khusus. Tawaran yang Cak Nur berikan adalah penertiban manajemen pesantren, merumuskan kembali tujuan pesantren, kurikulum pesantren, sistem nilai pesantren serta penanaman value (nilai) kepada peserta didik. Beriman, berilmu dan beramal. dari berbagai pemaparan tentang tawaran konsep pendidikan Nurcholis Madjid yang hampir sebagian besar mengerucut pada pembaharuan pesantren. Nurcholish Madjid menekankan agar dalam penerapan kurikulum di pesantren adanya check and balance. Perimbangan ini dimaksudkan agar pengetahuan keIslaman dan pengetahuan umum agar dapat berjalan sejalan satu dengan yang lainnya.
Dengan pembaharuan pendidikan pesantren yang bisa mengintegralkan antara pendidikan umum dan agama bisa diharapkan akan terwujudnya para santri intelek. Nurcholish Madjid berpendapat bahwa pesantren berhak lebih baik dan lebih berguna mempertahankan fungsi pokoknya semula, yaitu sebagai tempat menyelenggarakan pendidikan agama. Namun, mungkin diperlukan suatu tinjauan kembali, sehingga ajaran-ajaran agama yang diberikan kepada setiap pribadi menjadi jawaban yang komprehensif atas persoalan hidup, selain tentu saja disertai pengetahuan seperlunya tentang kewajiban-kewajiban praktik seorang muslim sehari-hari.
Sebagaimana gagasan Nurcholish Madjid, bahwa dalam menghadapi zaman semakin kompleks, pesantren dituntut untuk mengadakan perombakan perombakan dalam kurikulum pendidikan pesantren.[12] Untuk menyikapi pembaharuan kurikulum tersebut ada dua macam langkah yang harus diperhatikan yaitu: a) Pengembangan Intelektual, b) Paradigma Pemikiran.
Pemikiran seorang merupakan bagian integral dari sejarah kehidupannya. demikian pula halnya dengan pemikiran seseorang yang tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi yang membesarkannya. Hal tersebut nampaknya tidak terlepas juga dengan Nurcholis Madjid yang hidup dan berkembang di situasi sosial politik yang mengitarinya. Secara sederhana, perkembangan intelektual (pemikiran) keagamaan Nurcholish Madjid dibagi dua periode: pertama priode tahun 80-an dan kedua periode 90-an. Pada periode pertama tema-tema yang dikemukakan Nurcholish Madjid adalah seputar modernisasi dan sekulerisasi Sedangkan periode ke dua, banyak menyampaikan tema-tema yang universalisme Islam, dan pluralism.[13]
Nurcholish Madjid menggangap bahwa gagasan pembaharunya adalah pluralisme, karena pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan di masanya, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemerosotan dan ancaman disintegrasi bangsa. Fokus utama yang menjadi pemikiran Nurcholish Madjid, terkait dengan pembaharuan pemikiran Islam, ialah bagaimana memperlakukan ajaran Islam yang merupakan ajaran universal dan dalam hal ini dikaitkan sepenuhnya dengan konteks (lokalitas) Indonesia. Bagi Nurcholish Madjid, Islam hakikatnya sejalan dengan semangat kemanusiaan universal. Hanya saja, sekalipun nilai-nilai dan ajaran Islam bersifat universal, pelaksanaan tersebut harus disesuaikan dengan pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan sosio-kultural masyarakat yang bersangkutan. Dalam konteks Indonesia, maka harus juga dipahami kondisi riil masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan termasuk lingkungan politik dalam kerangka konsep “Negara bangsa”[14]

KESIMPULAN
Gagasan-gagasan yang dikemukakan Nurcholish Madjid maka ada dua kesimpulan pokok yang bisa ditarik, yaitu: pertama pesantren berhak mempertahankan fungsi pokok semula yaitu sebagai tempat menyelenggarakan pendidikan agama, tetapi diperlikan suatu tinjauan kembali sehingga ajaran agama yang diberikan merupakan jawaban yang komprehensif atas persoalan makna hidup. Untuk menyikapi pembaharuan kurikulum tersebut ada dua macam langkah yang harus diperhatikan yaitu: 1. Pengembangan Intelektual ,2. Paradigma Pemikiran.
Dengan menekankan agar dalam penerapan kurikulum di pesantren adanya check and balance. Pemikiran Cak Nur memang tidak akan pernah bisa terlepas dari keIslaman. Begitu pula dengan pemkirannya terkait dengan pendidikan. Cak Nur lebih banyak menyorot pesantren yang memang masih dirasa perlu memberikan perhatian khusus. Tawaran yang Cak Nur berikan adalah penertiban manajemen pesantren, merumuskan kembali tujuan pesantren, kurikulum pesantren, sistem nilai pesantren serta penanaman value (nilai) kepada peserta didik. Beriman, berilmu dan beramal. Dari berbagai pemaparan tentang tawaran konsep pendidikan Nurcholis Madjid yang hampir sebagian besar mengerucut pada pembaharuan pesantren. Dengan pembaharuan pendidikan pesantren yang bisa mengintegralkan antara pendidikan umum dan agama bisa diharapkan akan terwujudnya para santri intelek.




DAFTAR PUSTAKA

Yasmadi.  2002.  Modernisasi pesantren, Kritik Nurcholis Madjid terhadap Pendidikan Islam        Tradisional. Jakarta: Ciputat Press.

Peter Salim dan Yeny Salim. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English  Press.

Nata Abudin. 2011. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan diIndonesia. Jakarta:PT Grafindo.

Nurcholis Madjid. 2003. Bilik-bilik Pesantren. Jakarta: Dirjen Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren.

Abdul,Mujib. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Penada Media.

Khosin. 2006. Tipologi Pondok Pesantren. Jakarta: diva Pustaka.

Halim. 2013. Kebijakan Pendidikan Islam: Dari Ordonansi Guru Sampai UU Sisdiknas. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Budhy Munawwar-rahman, (Penyunting). 2011.  Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Pendidikan Modern Santri Indonesia. Jakarta: Democracy Project. Edisi Digital.


Kamaruzzaman Bustamam- Ahmad. 2004. Wajah Baru Islam di Indonesia, Yogyakarta: UII Press.



[1] Yasmadi, Modernisasi pesantren, Kritik Nurcholis Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Hlm. 89.
[2] Peter Salim dan Yeny Salim,Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer,(Jakaerta:Modern English Press,1991), Hlm.14.
[3] Nata Abudin,Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan diIndonesia,(Jakarta:PT Grafindo,2001), Hlm. 89.
[4] Ibid..,Hlm.104.
[5] Nurcholis Madjid,Bilik-bilik Pesantren,(jakarta: Dirjen Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren,2003), Hlm. 25.
[6] Abdul,Mujib.Ilmu Pendidikan Islam.(Jakarta: Kencana Penada Media,2006). Hlm. 235.
[7] Ibid..,hlm. 236.
[8] Khosin.Tipologi Pondok Pesantren.(Jakarta: diva Pustaka,2006). Hlm.101.
[9] Halim.Kebijakan Pendidikan Islam: Dari Ordonansi Guru Sampai UU Sisdiknas, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2013), hlm.45
[10] Nurcholis Madjid.Bilik-bilik Pesantren.,Opcit hlm.26
[11] Yasmadi, Modernisasi pesantren, Kritik Nurcholis Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 90
[12] Budhy Munawwar-rahman, (Penyunting), Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Pendidikan Modern Santri Indonesia. (Jakarta: Democracy Project. Edisi Digital, 2011), h. 2427.
[13] http://pendidikan-islam.com/pengembangan-kurikulum-pesantren-menurut-nurcholismadjid/ diakses 12 juni 2018.
[14] Kamaruzzaman Bustamam- Ahmad, Wajah Baru Islam di Indonesia, (Yogyakarta: UII Press, 2004), hlm. 42.

Lets Tarbiyah sebelum menikah

Alhamdulillah masih dipertemukan dipenghujung bulan syawal yg katanya musim nikah..  Hehe..  Alhamdulillah dikabarkan ad beberapa teman yg ...